NU – Muhammadiyah Diperkirakan Sepakat

222
SEPAKAT - P3M STAIN Pekalongan bersama ormas Islam saat membahas penentuan jadwal Imsyakiyah dan awal Ramadan 2016. (Lutfi Hanafi/ Jawa Pos Radar Semarang)
SEPAKAT - P3M STAIN Pekalongan bersama ormas Islam saat membahas penentuan jadwal Imsyakiyah dan awal Ramadan 2016. (Lutfi Hanafi/ Jawa Pos Radar Semarang)
SEPAKAT - P3M STAIN Pekalongan bersama ormas Islam saat membahas penentuan jadwal Imsyakiyah dan awal Ramadan 2016. (Lutfi Hanafi/ Jawa Pos Radar Semarang)
SEPAKAT – P3M STAIN Pekalongan bersama ormas Islam saat membahas penentuan jadwal Imsyakiyah dan awal Ramadan 2016. (Lutfi Hanafi/ Jawa Pos Radar Semarang)

PEKALONGAN – Jika tidak ada halangan, awal Ramadan 2016 bisa ditetapkan pada 6 Juni mendatang. Dan dipastikan dua ormas besar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU juga memulai puasa di tanggal yang sama.

Diungkapkan Ahmad Izzudin Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia, bahwa pada 5 Juni diperkirakan hilal sudah diposisi 2°, sehingga dipastikan jika cuaca bagus Ramadan 2016, ditetapkan 6 Juni. “Kebetulan ketinggian hilal sudah bersahabat, sesuai kesepakatan Rukyatul Hilal Asia Tenggara, pegangannya 2°, dari Sabang sampai Merauke sama, ” ucapnya, saat menggelar Seminar Imsyakiyah, Visibilitas Hilal dalam Perspektif Integrasi Sains dan Agama oleh Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STAIN Pekalongan, Selasa (10/5).

Bahkan kesamaan tersebut akan terus terjadi selama 7 tahun ke depan. Jika cuaca terus mendukung selama berlangsungnya waktu, sesuai dengan teori Aquarium. Untuk itu, dalam waktu tersebut, diharapkan kedua ormas besar tersebut bisa duduk bersama untuk bersepakat dalam penentuan waktu Ramadan dan awal Syawal selamanya. “Permasalan perbedaan ini sudah sangat klasik, untuk itu perlu duduk bersama. Terkait kesepakatan penentuan tersebut agar seterusnya bisa kompak,” jelasnya.

Ditambahkn Kepala P3M, Maghfur Ahmad memang hanya di Indonesia yang belum menjalankan kesepakatan terkait penentuan hilal. “Terkait perbedaan ini, memang perlu pemahaman bersama, terkait metodologi dan toleransi. Sehingga ke depan bisa lebih kompak lagi,” jelasnya.

Dalam hal ini, pemerintah juga tidak tinggal diam. Namun sudah membantu menyusun penghitungan. Namun karena memang belum ada kesepatakan juga tidak bisa dijalankan.

Sementara itu, terkait penentuan jadwal Imsyakiyah, karena wilayah terlalu luas jika digabung Kota dan Kabupaten, maka diambil jalan tengah, bahwa yang bagian Timur menunggu sebentar dan bagian Barat tidak terlalu cepat Maghribnya. (han/ric)