Menurutnya jika warga tidak memblokir jalan dengan menanam pisang, maka korban yang jatuh akan semakin banyak. Mengingat jalan tersebut adalah jalan utama, yang digunakan warga untuk menuju Kabupaten atau Kota Pekalongan.

“Aksi blokir jalan ini akan kami lakukan terus, sampai ada perhatian dari Kabupaten dan Kota Pekalongan, untuk memperbaiki jalan rusak berlubang. Karena jalan ini adalah jalan perbatasan,” ungkapnya.

Sucahyo juga mengatakan, jika dalam sepekan tidak ada perhatian dari pemerintah, maka warga desa akan menutup jalan tersebut secara total, agar semua kendaraan baik sepeda motor dan mobil harus berputar, melalui jalan raya pantura.

Menurutnya kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung selama dua tahun. Kerusakan disebabkan oleh kendaraan berat, seperti truk yang mengangkut material galian C, saat ada perbaikan jalan atau betonisasi di Desa Sijeruk.

“Warga akan menutup total Jalan Sijeruk hingga Jalan Kampus STIMIK, agar kerusakan jalan tidak terlalu parah, dan ada perhatian dari Pemda atau Pemkot Pekalongan,” kata Sucahyo.

Sementara itu, Kepala Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Ahmad Mubarok, menegaskan bahwa kerusakan jalan dadalah kewenangan dari DPU Kota Pekalongan. Bukan kewenangan Pemda atau DPU Kabupaten Pekalongan.

Menurutnya kerusakan jalan terparah ada di jalan Patriot depan Kampus STIMIK, sedangkan jalan rusak di Desa Sijeruk tidak terlalu menganggu pengguna jalan. “DPU Pemkot Pekalongan yang harus bertanggungjawab terhadap keruskan jalan itu, dengan adanya warga memblokir jalan tersebut. Kini warga Desa Mulyorejo dan Sijeruk, sulit untuk mengakses ke Kota Pekalongan,” tegasnya. (thd/ric)