TEGAS DAN BERETIKA: Tulus Wardoyo saat menjadi pembina pramuka bersama dengan siswanya di SMP Sepuluh November 1 Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TEGAS DAN BERETIKA: Tulus Wardoyo saat menjadi pembina pramuka bersama dengan siswanya di SMP Sepuluh November 1 Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TEGAS DAN BERETIKA: Tulus Wardoyo saat menjadi pembina pramuka bersama dengan siswanya di SMP Sepuluh November 1 Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Tulus Wardoyo, guru Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah Menegah Pertama (SMP) Sepuluh November 1 Semarang ini, sudah menduduki posisi penting sebagai Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan pada usia 23 tahun. Terbilang termuda di yayasannya, bahkan termuda se-Jawa Tengah. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

BAGI Tulus, karirnya sebagai Wakasek Bidang Kesiswaan termuda tersebut diakuinya bukan impiannya. Apalagi, kedudukan tersebut diperoleh saat dirinya baru selesai melaksanakan Praktik Pendidikan Lapangan (PPL) dan masih dalam proses menyelesaikan skripsi sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana.

”Saya masuk mendaftarkan diri ke SMP Sepuluh November 1 Semarang ini, karena ada informasi lowongan dari teman kuliah. Makanya, begitu selesai PPL, saya langsung mendaftarkan diri dan diterima. Masuk pertama kali 1 Oktober 2014, dengan posisi sebagai guru BK. Kemudian Januari 2015 diangkat jadi Wakasek,” kata Tulus saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Diakui Tulus, Kepala Sekolah (Kasek) SMP Sepuluh November 1 Semarang, Subchan Sujudi menugaskan dirinya menjabat sebagai wakasek, sempat membuatnya sulit mengambil keputusan. Tulus pun meminta waktu 2 jam untuk meyakinkan dirinya dulu. Kemudian meminta pertimbangan kedua orang tuanya.

Dirinya merasa masih ada 15 guru senior yang lebih berpengalaman dan lebih mampu ketimbang dirinya. Namun karena amanah dari pimpinan dan sifatnya sangat mendesak, akhiranya ia menerima dengan penuh tanggung jawab.

”Saya berani menjadi wakasek karena dipercaya oleh kepala sekolah, meski saya kerap merasa segan dengan guru-guru senior. Apalagi di dunia pendidikan bukan seperti dunia kerja,” anak kelima dari 8 bersaudara pasangan Egi Rucito dan Tulasmini ini.

Tulus mengaku sangat berterima kasih kepada pendahulunya Nur Aziz, selaku wakasek lama. Sebab sebelum Nur Aziz pindah untuk menjabat sebagai Kepala SMP Tri Mulya, sudah mempercayakan beberapa kegiatan kesiswaan kepada dirinya. Makanya, begitu jabatan wakasek dibebankan kepadanya, sudah tidak mengalami kesulitan yang berarti.

“Namun hingga detik ini, saya masih terus berusaha dan belajar menjadi guru dan pimpinan yang baik. Kini, saya memperbanyak komunikasi, menghormati para guru senior dan selalu minta maaf serta sharing agar terjalin hubungan baik antara guru dan siswa,” tutur pria kelahiran Banjarnegara, 14 Oktober 1992 ini.

Selain itu, Tulus tidak memungkiri pengalaman organisasi yang pernah ia geluti membawanya berpikir maju dan berani melakukan perubahan di sekolah. Dalam rekam jejaknya secara akademis, Tulus terbilang mahasiswa BK Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) 2015 berotak encer. Itu dibuktikan dengan hasil kelulusannya berpredikat cumlaude dengan perolehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,67.

Pengalamannya di bidang organisasi, juga tak perlu diragukan. Banyak jabatan penting pernah ia duduki. Mulai posisi Staf Bidang Koordinasi Luar dan Dalam Himpunan Mahasiswa (Hima) BK, Ketua Departemen Advokasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Presiden Partai Serikat Berkarya (PSBK), Wakil Ketua Umum Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), Ketua Kombara (Komunitas Mahasiswa Bajarnegara), dan Wakil Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat Ragajati di UPGRIS. Selain itu, pernah menjabat Ketua Umum Fantasi (Forum Alumni Pejuang Prestasi) SMA Negeri 1 Karangsambung, Kabupaten Kebumen. ”Pengaruh pengalaman organisasi yang saya jalani, pasti ada,” tandasnya.

Makanya, saat masih menjadi guru BK, Tulus sudah berani membuat perubahan sistem rekrutmen peserta didik. Kalau sebelumnya dalam menjaring siswa, hanya melalui brosur-brosur dan pamflet. Begitu dirinya masuk, dia mendorong penggunaan sistem sosialisasi ke siswa-siswa SD agar meneruskan jejang pendidikan di SMP 10 November. “Alhamdulilah membawa hasil. Dulunya setiap tahun ajaran baru hanya mendapatkan siswa baru di bawah 25 siswa, kini bertambah menjadi 32 siswa baru,” akunya yang merasa tantangan ke depan lebih berat karena harus merangkap sebagai guru BK, wakil kepala sekolah, dan pembina Pramuka.

Namun sebagai guru BK dan wakasek, Tulus sudah memiliki trik khusus dalam mengajar dan mendidik siswanya. Yakni menggunakan sistem tarik ulur seperti bermain layangan. Ada saatnya harus tegas. Tapi ada saatnya bercanda bersama siswa. Namun tidak boleh meninggalkan etika pendidikan.

”Karena saya merangkap guru BK, terus bertekad menjadikan siswa menjadi generasi yang lebih baik. Kalau di dalam kelas, saya menggunakan beragam metode agar pembelajaran lebih diminati siswa, seperti permainan dan cerita-cerita menarik,” ujarnya.

Kini, Tulus berencana membuat gebrakan baru untuk menghidupkan lagi kegiatan ekstra bela diri yang sudah lama vakum dan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolahnya. “Selama ini, hanya memiliki satu kegiatan ekstrakurikuler yakni Pramuka,” tuturnya prihatin.

Sementara itu, Kepala SMP Sepuluh November 1 Semarang, Subchan Sujudi menilai Tulus pantas menggantikan posisi wakasek, karena berani melakukan perubahan positif. ”Jadi saya percayakan tugas wakasek kepadanya. Mengenai peningkatan siswa, juga saya apresiasi. Semoga ke depan sekolah ini memiliki progres yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya,” kata Subchan. (*/ida/ce1)