PEDULI SESAMA : UPK Karangtengah memberikan santunan pada fakir miskin kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SESAMA : UPK Karangtengah memberikan santunan pada fakir miskin kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SESAMA : UPK Karangtengah memberikan santunan pada fakir miskin kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SESAMA : UPK Karangtengah memberikan santunan pada fakir miskin kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-UPK PNPM Kecamatan Karangtengah kemarin menyalurkan dana sosial sebesar Rp 78.315.000. Dana tersebut untuk membantu Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), program bedah rumah (5 rumah) masing-masing dengan nilai Rp 5 juta, kemudian santunan yatim piatu, fakir miskin serta dana kegiatan sosial desa.

Ketua Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Karangtengah, Ali Rosidi mengatakan bahwa dana sosial tersebut diambilkan dari dana surplus berjalan tahun 2015 dengan jumlah Rp 522.101.425. Karena itu, dari surplus, selain untuk dana sosial juga dipakai untuk kelembagaan sebesar Rp 182.735.000 dan modal investasi sebesar Rp 261.051.425.

Menurutnya, capaian kinerja UPK per Desember 2015 mendasarkan perhitungan rentabilitas modal sendiri (RMS) dan rasio biaya operasional (RBO). Tercatat, dana simpan pinjam modal awal 2015 mencapai Rp 4.307.898.668 dan total pendapatan Rp 864.588.843. Sedangkan, total biaya Rp 342.487.418. Kemudian, surplus Rp 522.101.425. Adapun RMS tercatat 12,12 persen dan RBO 39,61 persen.

“UPK ini masih konsentrasi progam simpan pinjam perempuan (SPP) dan usaha ekonomi produktif (UEP),” katanya didampingi Mustajab di sela tasyakuran ulang tahun ke-17 UPK Karangtengah, kemarin.

Hadir dalam acara ini, Ketua UPK Karangtengah Lalu Muazim, Bendahara UPK Nur Khamdan dan PJOK, Sugeng. Menurutnya, UPK saat ini hanya fokus pengembangan simpan pinjam tersebut. Sedangkan, kegiatan fisik sudah tidak ada lagi.Menurutnya, ada 90 kelompok di 17 desa di wilayah Kecamatan Karangtengah yang ter-cover UPK. Terbanyak di Desa Donorejo ada 13 kelompok. Setiap kelompok minimal ada 7 orang dan maksimal 30 orang. “Ada yang usaha produk anyaman bambu dan lainnya,” ujar dia. (hib/sct/ida)