SEMARANG – Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) Cabang Kota Semarang siap membantu Pemkot Semarang untuk menurunkan angka kematian anak dan ibu melahirkan. Sebab, saat ini angka kematian anak dan ibu melahirkan di Kota Atlas bisa dibilang masih cukup tinggi, dan menduduki peringkat kedua setelah Kabupaten Brebes.

Ketua IIDI Kota Semarang, Hetty Zein Budi Palarto, mengatakan, jika IIDI tahun ini akan fokus pada penanganan angka kematian ibu hamil dan anak, yang saat ini masih tinggi. Apalagi upaya yang sama saat ini sedang dilakukan oleh pemkot dan Dinas Kesehatan Kota Semarang.

”Tahun ini kami akan fokus pada penanganan, agar angka kematian ibu hamil dan anak, bisa berkurang,” katanya usai serah terima jabatan Ketua Cabang dan Pengesahan Pengurus IIDI di Aula YPAC Semarang, Selasa (3/5) siang.

Menurut dia, saat ini ada sekitar 150 anggota IIDI yang melakukan penyuluhan dan pelayanan kesehatan di Kelurahan Bandarharjo. Kebetulan posyandu setempat telah menjadi binaan IIDI selama 10 tahun terakhir. ”Kegiatan yang kami lakukan adalah melakukan sosialisasi pada ibu dan anak sebagai pendamping dan mitra sejajar Ikatan Dokter Indonesia,” ujarnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Semarang, Dr Elang Sumambar, menambahkan, jika IIDI telah menjadi mitra dari IDI dalam memberikan edukasi dan penyulahan tentang kesehatan di tengah-tengah masyarakat. Menurut dia, saat ini ada sekitar 3 ribu dokter, dan IIDI bisa menjadi wadah untuk mengentaskan Kota Semarang dari masalah kesehatan. ”Kalau saja seperempat istri para dokter tergabung di IIDI, masalah kesehatan bisa saja terselesaikan karena menjadi wadah potensial,” tuturnya.

Dia berharap, jika melakukan sosialisasi, IIDI bisa dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat. ”Mereka bisa menjadi kepanjangan tangan dari IDI. Apalagi mereka bisa menggunakan bahasa yang mudah dicerna,” katanya. (den/aro/ce1)