Pedagang Ditarik Uang Keamanan Lagi

Pasar Johar di MAJT

251

pungutan-pasar-web

SEMARANG – Sejumlah pengurus Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Kota Semarang, Senin (2/5) kemarin, melakukan audiensi dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Mereka menilai pernyataan wali kota yang meminta untuk menghentikan segala penarikan kepada pedagang Pasar Johar yang menempati relokasi sementara di kawasan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) membuat sebagian pedagang menolak membayar uang keamanan.

”Yang dimaksud (wali kota) itu retribusi pasar dan parkir. Sebab, setiap pedagang yang keluar-masuk dikenakan (parkir) terus, sehingga memberatkan,” ungkap Ketua PPJP Kota Semarang, Suwanto, kepada Jawa Pos Radar Semarang usai bertemu wali kota.

Dia menjelaskan, terkait uang keamanan sebelumnya telah disepakati oleh perwakilan pedagang, ketua kelompok, dan pamswakarsa. Dalam hal ini, setiap satu stiker lapak dikenakan Rp 10 ribu. Untuk stiker selanjutnya, pedagang hanya dikenai 50 persen. Misalnya, ketika pedagang memiliki dua stiker diharuskan membayar Rp 10 ribu dan Rp 5 ribu. ”Memang dulu berlaku kelipatan sampai empat stiker. Namun setelah ada masukan dari Ketua DPRD, saat ini berlaku mulai dari dua stiker,” jelasnya.

Ia menambahkan, keberadaan tenaga keamanan sangat dibutuhkan. Seperti halnya dalam sebuah perumahan pasti dijaga oleh seorang satpam. Lantaran dari pihak pemkot tidak menyediakan petugas keamanan, maka PPJP bekerja sama dengan pamswakarsa untuk pengamanan selama 24 jam nonstop.

”Kalau tidak ada uang keamanan, lalu yang menggaji mereka siapa? Jumlahnya mencapai 70 orang. Mereka mengenakan seragam atas batik dan bawah bebas,” tandasnya seraya mengaku terus mengingatkan untuk tidak membebani para pedagang.