Djoko Setijowarno

TEKNOLOGI transportasi di Indonesia, diawali dari moda kereta api. Sedangkan perkeretaapian pertama di Indonesia dimulai dari Kota Semarang 152 tahun lalu, tepatnya 17 Juli 1864. Di Semarang pernah beroperasi tiga perusahaan transportasi perkeretaapian, karena memiliki tiga jalur kereta yang berbeda, yakni Semarang-Cirebon (Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij/SCS), Semarang-Solo-Jogjakarta (Netherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij/NIS) dan Semarang-Juana-Rembang (Semarang Joana Stoomtram Maatschappij /SJS) dengan masing-masing stasiun yang berbeda dan tidak terhubungkan kala itu (Stasiun Poncol, Stasiun Tawang dan Stasiun Jurnatan).

NIS memiliki kantor perkeretaapian swasta terbesar yang terletak di Gedung Lawang Sewu. Dulu juga pernah beroperasi trem yang melintas mulai Stasiun Jomblang, Jalan Mataram (Jalan Mayjen, MT Haryono), Jalan Bubakan (Jalan Haji Agus Salim), Jalan Bojong (Jalan Pemuda) hingga Jalan Bulu (Jalan Soegijapranata), Stasiun Bulu (dekat LP Wanita Bulu). Selain Semarang, trem juga pernah beroperasi di Jakarta, Surabaya dan Malang.

Era bus kota dimulai pada 1978 oleh Perum Damri dan dioperasikan bus tingkat tahun 1982 dengan dua rute, yaitu Pasar Jrakah – Pasar Johar dan Pasar Jatingaleh – Pasar Johar. Dibangunnya kawasan perumahan juga disertai dengan trayek angkutan umum dari dalam kawasan tersebut. Ada rute bus Perumnas Banyumanik-Pasar Johar dan Jrakah – Perumnas Krapyak – Pasar Johar. Kemudian dengan layanan angkot Perumnas Sampangan-Pasar Johar dan Perumnas-Tlogosari-Pasar Johar. Terakhir ada layanan bus Damri Pucanggading-Jrakah. Sekarang layanan angkutan umum sudah menurun dan tidak banyak lagi warga yang memanfaatkannya.

Sesungguhnya untuk kawasan Aglomerasi Kedungsepur pernah juga sudah terlayani Bus Damri trayek Pasar Babadan (Ungaran) – Pasar Johar (Semarang) sudah ada sejak 1980. Cuma sekarang sudah tidak ada lagi layanan itu. Tutup setelah penumpang semakin berkurang.

Pernah dilayani ratusan armada angkot dengan sebutan Daihatsu. Yakni, karena merek itu yang banyak digunakan untuk menggantikan bemo. Dengan armada yang lebih kecil, pernah melayani warga Semarang ke seluruh pelosok kawasan perumahan dan permukiman.

Terminal Jurnatan (bekas Stasiun Jurnatan) dulunya cukup ramai dengan bus antarkota yang melayani trayek hingga Jakarta dan Surabaya. Kemudian dipindah ke Terminal Terboyo dengan alasan sudah tidak memadai lagi keberadaan terminal di tengah kota. Pada 2002 mulai direncanakan Terminal Mangkang dan diresmikan pada 2008 oleh Menhub Jusman Syafei Djamal yang hingga sekarang tetap sepi. Bahkan, beberapa kali dilakukan program optimalisasi, ternyata tidak dapat lagi menjadi kebanggaan warga Kota Semarang.