AKSI DEMO : Di saat kaum buruh mengelar syukuran, istighosah dan diskusi ringan, puluhan mahasiswa menggelar aksi demo Hari Buruh dengan menutup jalur pantura. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
AKSI DEMO : Di saat kaum buruh mengelar syukuran, istighosah dan diskusi ringan, puluhan mahasiswa menggelar aksi demo Hari Buruh dengan menutup jalur pantura. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
AKSI DEMO : Di saat kaum buruh mengelar syukuran, istighosah dan diskusi ringan, puluhan mahasiswa menggelar aksi demo Hari Buruh dengan menutup jalur pantura. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
AKSI DEMO : Di saat kaum buruh mengelar syukuran, istighosah dan diskusi ringan, puluhan mahasiswa menggelar aksi demo Hari Buruh dengan menutup jalur pantura. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

PEKALONGAN – Ada hal menarik dalam menyikapi peringatan May Day atau Hari Buruh internasional di Pekalongan. Di saat para buruh yang tergabung dalam berbagai organisasi menggelar syukuran, istighosah dan diskusi dengan pemkot dan pengusaha. Mahasiswa gabungan berbagai organisasi, memilih menggelar mimbar jalanan dengan demo menutup sebagian jalur utama pantura, Minggu (1/5).

Sejak pagi hari hingga menjelang sore, ratusan buruh dari berbagai organisasi berkumpul di depan kantor pusat Serikat Pekerja Nasional (SPN) Pekalongan di jalan Karya Bakti Pekalongan.

Mereke menggelar panggung sederhana. Gabungan organisasi buruh mengundang perwakilan dari Forkompimda. Dari Ketua Dewan, Pemkot, kepolisian, TNI, tokoh masyarakat hingga DPK Apindo, yang notabene sering bersinggungan dengan mereka. Acara dibuka dengan doa bersama dengan menggelar istighosah akbar dengan seluruh perwakilan pengurus organisasi buruh di Pekalongan.

Ketua SPN Pekalongan Jumali, menerangkan dalam perayaan May Day kali ini pihaknya ingin lebih cerdas menanggapinya. Berjuang tidak harus menggelar demo atau menuntut pemerintah.