Sejarah Desa Trengguli yang Jadi Desa Sasaran TMMD Kodim Demak

892
Balai Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam (hid@radarsemarang.com)
Balai Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam (hid@radarsemarang.com)
Balai Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam (hid@radarsemarang.com)
Balai Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam (hid@radarsemarang.com)
DEMAK–Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam adalah desa yang akan di jadikan pusat kegiatan TMMD Reg ke-96 Kodim 0716/Demak. Sebuah desa yang terletak di daerah pinggiran demak, di pinggir Jalan Raya Demak Kudus. Ke arah Utara menuju ke kota ukir Jepara.

Melongok sejarah yang ada, asal mula Desa Trengguli adalah pemberian nama dari Kanjeng Sunan Kali Jaga yang pernah datang ke desa setempat. Waktu itu, Sunan Kali Jaga datang ke Trengguli untuk berdakwah menyebarkan agama Islam, dan waat itu desa setempat belum mempunyai nama. Hingga akhirnya, Sunan Kali Jaga memberi nama Desa trengguli, lantaran di desa itu banyak tumbuh pohon Trenggulun. .

Konon ulama besar juga pernah bermukim di Demak, lokasi tepatnya sekarang adalah di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak. Dia adalah Syekh Hasan Tohir

seorang ulama yang hidup pada masa rintisan Kerajaan Demak. Dia memiliki garis keturunan dengan Sunan Gresik.

Semasa hidupnya, dia bersama kiai dan tokoh agama Islam lainnya bermukim di tempat yang digunakan untuk mendidik para calon dai yang akan diterjunkan di sejumlah daerah. Terdapat sembilan guru ahli agama yang mengusai berbagai ilmu, seperti ahli kitab, ahli ilmu kanuragan, pengobatan, kebathinan, mantek dan lainnya.

Mereka yang berada di Padepokan Muslim tersebut, diantaranya Syekh Maulana Abdurrahman bin Syekh Abdullah (penasehat), Syekh Hasan Tohir (pimpinan/pengasuh padepokan), anggota pengasuh Syekh Ali Ahmad (keturunan Sunan Muria), Nyai Sayidah Siti Arifah (keturunan Sunan Ampel), Syekh Abdul Mutholib, Syekh Maulana Saifuddin, Syekh Abdul Manan, Syekh Abdul Malik, Syekh Abdul Ghofur.

Kesembilan guru tersebut mendidik para santri dengan tahapan yang detail. Masing-masing mereka mentransfer ilmunya kepada para santri dengan cara yang mudah difahami. Para santri juga mengikuti pendidikan dengan rajin, serius, penuh kesabaran, ketaan, dan keikhlasan.

Para santri bukan hanya didik soal agama, cara beribadah yang bernar, membiasakan semua langkah dengan dzikir dan shalawat, tetapi juga diberi pemahaman tentang kanuragan, pengobatan, mantek dan sebagainya. Kesemua ilmu tersebut sangat bermanfaat untuk syiar Islam.

Sikap dan rasa prihatin ditanamankan kepada para santri dengan maksud agar mereka lebih siap mental menghadapi persoalan tersulit. Sebab, perjuangan syiar Islam bukan hal mudah, terutama syiar yang dilakukan di daerah terpencil, pedalaman. Apalagi bila mendapat perlawanan dari pemegang kekuasaan atau oleh mereka yang punya kekayaan.

Pendidikan di Padepokan ini juga mendapat pengajaran langsung dari Walisongo, seperti Sunan Gresik, Sunan Giri, Sultan Fatah, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Ampel, Sunan Gunungjati, Sunan Drajat, Sunan Kudus dan Sunan Bonang. Mereka menjadi guru yang menempat ilmu-ilmu khos (khusus).

Di padepokan tersebut selalu diisi dengan kalam illahi. Suara dzikir, shalawat seperti menghiasi waktu yang terus berputar. Ketika sebagian santri belajar ilmu pengobatan, santri lain ilmu kanuragan, mantek, lainnya berdzikir. Suasana terasa damai dengan berbagai aktivitas tersebut. Canda tawa tidak pernah mengurangi makna keseriusan mereka dalam belajar.

Para santri yang dinyatakan mumpuni atau lulus langsung diarahkan untuk menyebarkan Islam ke daerah penjuru nusantara. Bahkan, ada yang berdakwah syiar Islam ke daerah lain di manca negara.

Meski telah berada di daerah lain, tak jarang komunikasi tetap dilakukan. Seperti dengan mengirimkan warga yang telah masuk Islam untuk menjadi santri di padepokan tersebut. Peran padepokan ini terbukti mempercepat penyebaran Islam di Indonesia. Di antara mereka ada yang mendirikan pondok pesantren, ada pula yang mendirikan pendidikan agama di suro-suro dan lainnya.

Namun seiring perjalanan waktu, Padepokan Muslim ini seperti tak meninggalkan jejak. Para pengasuh dan pendiri padepokan meninggal dan dikebumikan di lokasi tersebut. Kini yang tersisa hanyalah sejarah. Namun hasil perjuangan mereka telah

mendukung perjuangan Walisongo dalam menyebarkan Islam di Indonesia, bahkan sampai Malaysia, Brunai Darrussalam, Philipina, Tailand, Kamboja. Perkembangan Islam di Indonesia berkembang begitu pesat.(hib/berbagai sumber/ap)