TAK PERCAYA: Sutimah menunjukkan surat penangkapan terhadap anaknya, Suratman. (kanan) Rumah Suratman bercat krem di Rejosari, Magersari, Magelang Selatan. (HANIF ADI PRASETYO/JAWA POS RADAR KEDU)
TAK PERCAYA: Sutimah menunjukkan surat penangkapan terhadap anaknya, Suratman. (kanan) Rumah Suratman bercat krem di Rejosari, Magersari, Magelang Selatan. (HANIF ADI PRASETYO/JAWA POS RADAR KEDU)

Banyak yang tidak peracaya, Suratman (bukan Sujadi) dan Susanto alias Pamong, warga Rejosari, Magersari, Magelang Selatan terlibat dalam beberapa aksi teror penembakan di Kota Magelang. Ibu kandung terduga pelaku penembakan, Sutimah, merasa anaknya menjadi korban fitnah.

HANIF ADI PRASETYO

PASCA ditangkapnya Suratman, 33, pukul 03.00, Jumat dini hari (29/4) lalu, suasana rumah terlihat senyap. Pintu rumah didominasi warna krem itu menganga lebar. Empat orang tampak duduk di kasur busa di rumah sederhana yang terletak di lorong gang tersebut. Salah satu dari empat orang itu adalah ibunda terduga pelaku penembakan, Sutimah.

Rumah Sutimah tepat di bawah kaki Gunung Tidar. Wajar bila masyarakat sekitar banyak memiliki senapan angin untuk berburu burung, bajing dan tikus. Jarak rumahnyanya juga kurang lebih 100 meter dari lokasi penembakan di Jalan Ikhlas, beberapa waktu lalu.

Kedatangan koran ini disambut langkah gontai kaki Sutimah. Tampak kegelisahan dari gurat wajahnya. Apalagi dengan pemberitaan lokal dan nasional yang semakin menyudutkan kedua anaknya, Sutimah semakin terpukul. ”Itu fitnah, Mas. Saya tidak percaya anak saya berbuat sejahat itu,” katanya dengan nada lesu kepada Jawa Pos Radar Kedu, Sabtu (30/4).

Diakui Sutimah, anak keduanya, Suratman, memang hobi berburu binatang. Dua bilah parang yang disita polisi itu juga digunakan untuk pendukung kerja sebagai petugas keamanan Rukun Tetangga (RT) setempat.