GAYENG: Ribuan penari menyemarakkan penutupan Solo Menari 24 Jam di Jalan Jenderal Sudirman kemarin. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
GAYENG: Ribuan penari menyemarakkan penutupan Solo Menari 24 Jam di Jalan Jenderal Sudirman kemarin. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
GAYENG: Ribuan penari menyemarakkan penutupan Solo Menari 24 Jam di Jalan Jenderal Sudirman kemarin. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
GAYENG: Ribuan penari menyemarakkan penutupan Solo Menari 24 Jam di Jalan Jenderal Sudirman kemarin. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Event tahunan Solo Menari 24 Jam Menari resmi ditutup kemarin. Sore harinya, ribuan warga tumplek blek di Jalan Jenderal Sudirman menyaksikan beragam tarian dan seni lainnya.

Kegiatan bertema Gelar Karya Pesona Solo Kemilau itu dimulai sekitar pukul 14.00 dan dibuka oleh penampilan murid Paguyuban Guru Tari (Pagutri) Solo. Mereka menyuguhkan tari jaranan, cublak-cublak suweng dan lainnya.

Dilanjutkan kolaborasi tari kolosal dari berbagai sanggar tari di kota Solo dan penampilan banyolan khas Sahita. “Warga Solo kudu duweni lan melu mbangun kota. Jangan cuma mengandalkan Pak Wali dan Pak Wawali,” pinta salah seorang personel Sahita.

Rampung Sahita, giliran penari Lembu Suro dan Ganong melakukan aksi akrobatik yang energik. Disusul kemudian penari anak-anak dengan beragam kostum satwa dan fauna, serta puluhan penampilan lainnya.