Sugeng Riyadi (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sugeng Riyadi (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sugeng Riyadi (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Sugeng Riyadi (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PLEBURAN – Nama Nurul Huda (NH) yang merupakan tersangka terakhir yang diekspose Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah, sepertinya masih membutuhkan proses panjang untuk bisa segera dilimpahkan berkas perkaranya ke Pengadilan Tipikor Semarang. Pasalnya ketika diperiksa NH terus menyangkal rekening yang digunakan sebagai penerima atas perkara dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah 2011 tersebut miliknya.

Nurul Huda sendiri ditetapkan sebagai tersangka pada November 2015 lalu. NH merupakan staf ahli Fraksi Partai Golkar DPRD Jateng. NH juga tercatat sebagai senior aktivis mahasiswa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Korkom Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang diketahui perkara juniornya lebih dahulu dinyatakan Inkracht, adapun junior NH yakni, Aji Hendra Gautama, Azka Najib, Musyafak, Farid Ihsanudin dan Agus Khanif.

”Saat ini masih tahap pemberkasan untuk NH, minggu kemarin masih tahap mendengarkan keterangan ahli BPKP,” kata Asisten Intelijen, Yakob Hendrik P melalui Kasi Penkum Kejati Jateng, Sugeng Riyadi kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (29/4).

Sugeng juga mengaku sudah meminta data analisis transaksi keuangan ke Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) namun tidak ada nominal transaksi yang mencurigakan yang dilakukan Nurul Huda. ”Dari rekening dia (NH, Red) ternyata tidak ada transaksi yang mencurigakan, nominal masih biasa,” sebut Sugeng.

Terpisah, Koordinator Bidang Analisis Kerja Aparat Penegak Hukum pada Komunitas Pemerhati Korupsi (KOMPAK) Jateng, Yusuf Isyrin Hanggara meminta penyidik Kejati Jateng perlu segera menemukan aktor intelektual ke mana dana bansos tersebut mengalir. ”Siapa dalang adanya korupsi bansos ini harus ditemukan. Kerugian negara dalam perkara tersebut ada miliaran rupiah jadi harus diusut,” tandasnya.

Kurnia juga mengajak seluruh masyarakat agar terlibat aktif dalam memantau perkembangan kasus bansos tersebut. Menurutnya kasus tersebut perlu dikawal oleh publik. ”Jangan sampai Kejati Jateng hanya cenderung menahan para tersangka yang pinggiran saja. Sementara aktor intelektual didiamkan bahkan tidak diperiksa. Termasuk masih ada Budi Santoso yang belum jelas kelanjutannya,” sebutnya. (jks/zal/ce1)