Kartu Tani Dianggap Bikin Ribet

484

DEMAK- Kartu tani dinilai justru akan membuat ribet bagi petani. Sebab, mereka akan antre menggunakan kartu tersebut jika membeli pupuk dan lain sebagainya. Kondisi ini juga dibayangkan akan menambah rumit pihak pengecer pupuk karena saat melakukan pembayaran di bank juga akan antre.

Tidak ada kartu tani saja, para nasabah bank sudah antre mengular tiap hari. Kartu tani ini sedianya terhubung langsung dengan bank, diantaranya Bank BRI. Hal ini mengemuka dalam sosialisasi kartu tani di ruang Bina Praja, kemarin.

Salah seorang peserta, Al Ghozali dari Karangawen mengungkapkan, kalau mau menabung saja antreannya lama. Bahkan, kerap pula ngadat. “Jadi, kita berpikir antreannya lama. Kalau pas ngadat harus kembali lagi pada hari berikutnya,” ujar dia.

Antrean panjang saat di bank juga disampaikan Masrohan, pengecer pupuk subsidi dari Kebonagung. Menurutnya, suka atau tidak suka penggunaan kartu tani tersebut seperti memperkosa petani termasuk pengecer. Sebab, petani dan pengecer dipaksa pakai kartu tani, saat membeli dan pembayaran pupuk. “Petani itu sebetulnya kepengen mudah. Dengan kartu tani ini, warga desa kalau mau nabung di BRI kecamatam saja antrenya panjang dan padat. Padahal, kartu tani hanya untuk 1 pengecer.Kalau di BRI pas ada gangguan (ngadat) kan repot juga,” katanya.

Selain itu, pengecer pupuk juga kebingungan karena biasanya ada juga petani yang membeli pupuk dengan sistem bayar saat panen raya. “Lha ini bagaimana,” tanya dia.

Para peserta dari kalangan pengecer pupuk ini juga khawatir jika kartunya offline. Artinya, kartu itu tidak dapat dihidupkan karena gangguan sehingga akan mempersulit transaksi pembelian pupuk. “Lantas nasib petani yang menggarap sewa lahan di tepi rel kereta api (KA) dan tepi sungai itu bagaimana. Sebab, dengan adanya kartu tani itu, tentu mereka akan terhapus dengan sendirinya. Apalagi, kartu tani sebagai alat pembayaran pupuk bersubsidi,” kata para pengecer tersebut.

Asisten II Setda Pemnkab Demak, Windu Sunardi mengungkapkan, adanya kartu tani sebetulnya diharapkan dapat tepat sasaran utamanya dalam menyalurkan pupuk subsidi baik oleh pengecer maupun distributor. Karena itu, kartu tani dinilai bisa menjadi solusi dan mencegah kelangkaan pupuk. “Biasanya pupuk ada tapi mahal. Kalau tidak, pupuk langka. Ini dicari solusinya,” katanya. Kepala Biro Bina Produksi Provinsi Jateng, Peni Rahayu mengatakan, kartu tani disosialisasikan ke pengecer pupuk agar mereka memahami fungsi kartu tersebut. Sebab, kartu tani menjadi alat membayar pupuk bersubsidi. (hib/zal)