Dirumahkan, Buruh Ngamen di Jalan

438
NGAMEN : Sejumlah buruh pabrik yang dirumahkan melakukan aksi mengemis dan mengamen di Jalan A.Yani, Wiradesa, Pekalongan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
NGAMEN : Sejumlah buruh pabrik yang dirumahkan melakukan aksi mengemis dan mengamen di Jalan A.Yani, Wiradesa, Pekalongan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
NGAMEN : Sejumlah buruh pabrik yang dirumahkan melakukan aksi mengemis dan mengamen di Jalan A.Yani, Wiradesa, Pekalongan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
NGAMEN : Sejumlah buruh pabrik yang dirumahkan melakukan aksi mengemis dan mengamen di Jalan A.Yani, Wiradesa, Pekalongan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

KAJEN – Sekitar 100 buruh pabrik yang dirumahkan dari berbagai perusahaan garmen di Kabupaten Pekalongan, Kamis (28/4) melakukan aksi meminta sumbangan dan ngamen di jalan. Para buruh yang berasal dari PT Kesmatex, PT Indratex, PT Ragatex dan PT Dutatex tersebut beraksi di sepanjang jalan A.Yani, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.

Mereka meminta uang, pada sejumlah pengendara yang berhenti di lampu lalu lintas perempatan Pekuncen. Aksi yang dilakukan sempat membuat jalur pantura macet. Sebab para buruh tersebut juga menggelar poster dan melakukan orasi yang mengundang perhatian pengguna jalan.

Sekretaris Serikat Pekerja Nasional, PT Dutatex, Edi Siswanto mengungkapkan dilakukannya aksi meminta sumbangan pada pengguna jalan karena para buruh tersebut dirumahkan oleh pihak perusahaan. Mereka mengaku hanya mendapatkan uang Rp 800 ribu per bulan, atau 50 persen dari UMK yang diterima setiap bulannya.

Menurutnya uang Rp 800 ribu yang diterima dari PT Dutatex, tidak cukup untuk kebutuhan keluarga. Meski uang yang diterima tersebut diperoleh tanpa bekerja. Maka sambil menunggu kembali bekerja, para buruh yang berjumlah 100 orang terpaksa mengemis untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Kami mengemis hanya sementara, sambil menunggu kembali dipanggil kerja. Sejak dirumahkan pada bulan Maret, kami hanya menerima Rp 800 ribu sebulan. Karena tidak ada pekerjaan, maka kami mengemis hanya untuk menambah kebutuhan rumah tangga,” ungkap Edi, yang menjadi Koordinator aksi tersebut.