MENJAGA TRADISI: Grup Musik Keroncong Gunung Jati (KGJ) Semarang saat tampil di acara peresmian kantor baru Penghubung Komisi Yudisial Semarang, beberapa waktu lalu. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Grup Musik Keroncong Gunung Jati (KGJ) Semarang saat tampil di acara peresmian kantor baru Penghubung Komisi Yudisial Semarang, beberapa waktu lalu. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Grup Musik Keroncong Gunung Jati (KGJ) Semarang saat tampil di acara peresmian kantor baru Penghubung Komisi Yudisial Semarang, beberapa waktu lalu. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Grup Musik Keroncong Gunung Jati (KGJ) Semarang saat tampil di acara peresmian kantor baru Penghubung Komisi Yudisial Semarang, beberapa waktu lalu. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Hanya segelintir kelompok musik keroncong di Kota Semarang yang masih eksis. Salah satunya Grup Musik Keroncong Gunung Jati (KGJ) Semarang. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

ALUNAN suara selo, cak, ukulele, biola dan bass mengalun merdu diiringi suara vokalis yang mampu melantunkan berbagai lagu. Sehingga mampu menghipnotis para pengunjung yang mendengarkan permainan musik asli Indonesia ini.

Ya, itulah penampilan grup musik Keroncong Gunung Jati (KGJ) Semarang. Kelompok musik ini digawangi Hendi Kartika, Gunawan, Affandi, Agung dan Yayas Bandreas. KGJ berdiri pada 24 April 2004 bersamaan dengan peringatan hari angkutan nasional. Mereka punya cara jitu agar musik keroncong tidak hanya dinikmati oleh orang tua saja, tapi juga kalangan muda hingga anak kecil.

”Kami selalu berinovasi rutin dalam setiap kali tampil dengan menyanyikan lagu-lagu modern, namun tetap dengan iringan musik keroncong,” kata Koordinator KGJ Semarang, Hendi Kartika kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut Hendi Kartika, musik keroncong adalah warisan budaya Indonesia yang saat ini terus terkikis. Karena itu, musik ini harus terus dilestarikan agar tidak punah dan diklaim negara lain.