Oleh: Djawahir Muhammad

PERTENGAHAN April 2016 lalu, Kota Semarang memperoleh penghargaan sebagai Kota Tangguh dari Rockefeller Foundation, yayasan nirlaba dari Amerika Serikat yang bergerak dalam bidang sosial budaya, seperti UNESCO. Selain Semarang, ada sebelas kota dari berbagai dunia memperoleh penghargaan ini. Artinya, Semarang memperoleh klasifikasi ”kota tangguh” seperti kota-kota tangguh di negara lain.

Tapi, apa makna ”kota tangguh” tersebut? Dalam kamus umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1987; 1013) memiliki makna 1) kuat; sukar dikalahkan; misalnya tentara Sparta yang tangguh dan terkenal keberaniannya. 2) kukuh, tidak lembek atau lemah (tentang pendirian dan sebagainya). 3) tabah dan tahan menderita, dan sebagainya), misalnya boleh dipandang sebagai penyekat yang tangguh, seorang nasionalis yang tangguh. Sepadan dengan kata ketangguhan adalah kata kekuatan, keuletan, dan kekukuhan.

Dari rumusan arti kata ’tangguh’ menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa makna konotatif (makna tautan, interpretatif) kata tangguh cenderung pada arti ketiga; tabah dan tahan menderita dan sebagainya. Jadi, kalau dikatakan bahwa orang Semarang tangguh dalam menghadapi rob dan banjir, maksudnya adalah ”orang Semarang tabah dan tahan menderita dalam menghadapi rob dan banjir”.

Selanjutnya, kalau interprestasi tersebut bukan tidak salah, maka makna konotatif penghargaan ”Semarang sebagai kota tangguh” adalah Kota Semarang niscaya memiliki kondisi yang permanen, yaitu senantiasa terkena rob dan banjir, sementara penduduknya bersifat tangguh dengan kondisi tersebut. Logikanya, kalau tidak ada bencana, orang/ Kota Semarang tidak tangguh. Thus, Semarang adalah kota yang tangguh, karena penduduknya tabah dan tahan menderita (karena terjadi rob dan banjir, Pasar Johar terbakar, dan sebagainya).

Dibolak-balik dengan logika apa pun, dalam penghargaan ”Kota Tangguh” tersebut sebenarnya tebersit pengakuan adanya ”sesuatu” yang menjadi latar belakang terpilihnya Kota Semarang sebagai kota tangguh. Pengakuan itu boleh jadi membanggakan warga kota, tapi sebaliknya juga bisa ”mempermalukan” warga kota.