Dambakan Trotoar Nyaman

281

perlindungan-pejalan-kaki-web

KONDISI trotoar di Kota Semarang sangat memprihatinkan, jika dibandingkan dengan kota-kota lain di mancanegara atau kota setara di Indonesia. Bahkan, kendati pasal 275 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan (LLAJ) melindungi pejalan kaki, namun dilanggar sendiri oleh pemerintah dan masyarakatnya.

Keprihatinan tersebut disampaikan Djoko Setijowarno, pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata yang sudah menjelajah hampir di seluruh Indonesia. ”Miris rasanya, jika melihat kondisi trotoar di Kota Semarang, jika dibandingkan kota-kota di mancanegara atau kota setara di Indonesia,” tandasnya.

Menurut Djoko, sebelum 1990, angkutan umum masih baik dan fasilitas pejalan kaki masih banyak digunakan para pejalan kaki. Walau kondisi trotoar tidak bagus, tapi fungsinya memenuhi syarat untuk pejalan kaki. Tidak ada pot bunga, pos polisi, pos Dishubkominfo maupun warung PKL.

”Namun, sekarang sulit menemukan segerombolan pelajar berjalan kaki masuk sekolah di pagi hari dan keluar sekolah di siang hari. Semua sudah tergantikan dengan sepeda motor,” tuturnya.

Tragisnya, sejak reformasi dan alasan sulit mencari nafkah, trotoar dialihfungsikan menjadi tempat berjualan. Namun kondisi tersebut justru semakin kebablasan hingga sekarang. Hampir semua fasilitas pejalan kaki dipenuhi pedagang kaki lima (PKL), sebagaimana di kawasan Simpang Lima yang sudah tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk pejalan kaki.