Momen TMMD Diharapkan Bisa Kembalikan Belimbing sebagai Buah Khas Demak

306
Pasiter Kodim 0716 Demak Kapten Arh Jayadi mengamati pohon belimbing disela persiapan TMMD di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, kemarin. (wahibpribadi/radarsemarang.com)
Pasiter Kodim 0716 Demak Kapten Arh Jayadi mengamati pohon belimbing disela persiapan TMMD di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, kemarin. (wahibpribadi/radarsemarang.com)
Pasiter Kodim 0716 Demak Kapten Arh Jayadi mengamati pohon belimbing disela persiapan TMMD di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, kemarin. (wahibpribadi/radarsemarang.com)
Pasiter Kodim 0716 Demak Kapten Arh Jayadi mengamati pohon belimbing disela persiapan TMMD di Desa Trengguli, Kecamatan Wonosalam, kemarin. (wahibpribadi/radarsemarang.com)
DEMAK-Muncul ide menarik terkait pelaksanaan TMMD Reguler ke-96 Kodim 0716/Demak dengan desa sasaran Desa Trengguli, kecamatan Wonosalam. Yakni, banyak pihak yang beharap momen tersebut diharapkan bisa kembaliaan kejayaan buah belimbing yang menjadi buah khas Kota Wali, Demak.

Sejumlah warga Trengguli sendiri belakangan ini sempat mempertanyakan, rencana pemerintah Demak yang akan menghijaukan kawasan pinggir sungai Apur C7, di Desa setempat, dengan tanaman Belimbing.

Pj Kades Trengguli, M Subki, mengaku prihatin, dengan semakin berkurangnya pohon belimbing di Demak, dan disinyalir warga lebih memilih menanam pohon jambu. “Ini perlu mendapat perhatian semua pihak, dengan semakin berkurangnya pohon blimbing di Demak, bahkan menjurus punah,” katanya.

Senada Ali Murtadho, perangkat Desa Trengguli mengatakan, bahwa saat ini pohon belimbing sulit didapat di kawasan itu. Kondisi jauh berbeda dengan demak yang dulu periode 1990-an, dimana banyak pohon belimbing tumbuh.

Menurutnya, penyebab pohon belimbing tidak bisa lagi setenar dulu di karenakan masyarakat Demak sudah beralih menanam pohon jambu air. Alasannya cukup masuk akal, yakni dikarenakan untuk perawatannya pohon jambu air lebih mudah daripada pohon belimbing.

“Padahal belimbing adalah ikon kota demak yang perlu dilestariakn sesuai budaya lagu Lir ilir Kanjeng Sunan Kali Jogo Ijo royo royo penekno belimbing kuwi,” ungkap Ali.

Diakuinya, upaya mengembalikan kejayaan buah Blimbing di Demak cukup dilematis. Pemerintah tidak bisa memaksa para petani untuk menanam belimbing. Sebetulnya, di desa tersebut, kata dia, dulu ada warga bisa menunaikan ibadah haji dari hasil menjual belimbing. Namun sekarang, sebagian besar pohon yang mereka pelihara sudah uzur. Produktivitasnya pun sudah mulai menurun. Rata-rata setiap pohon hanya mampu menghasilkan 10 – 15 buah saja.(hib/ap)