Lestarikan Tari, Butuh Totalitas

262
Eka Wahyu Andani (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Eka Wahyu Andani (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Eka Wahyu Andani (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Eka Wahyu Andani (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BAGI Eka Wahyu Andani, menjadi penari itu harus dengan sepenuh hati dan ikhlas. Tanpa totalitas, tidak akan bisa menjadi penari.

“Saya berharap, tarian tradisional selalu dicintai dan mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Bukan hanya bangsa asing saja yang mau belajar, sementara generasi muda sekarang ogah-ogahan,” ingat mahasiswi semester 2 jurusan Bimbingan Konseling (BK) di Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) ini.

Menurutnya, melestarikan budaya tari merupakan kewajiban seluruh masyarakat Indonesia agar tidak mudah diklaim bangsa asing. Dirinya berharap tarian tradisional selalu dijaga dan dilestarikan untuk generasi mendatang.

Eka sendiri bertekad melestarikan tarian tradisional jenis Gambyong yang merupakan tarian khas Semarang. “Ternyata, bertekad melestarikan, justru menambah pundi-pundi rupiah untuk keperluan uang jajan dan tambahan biaya kuliah,” katanya penuh haru.