KELUHKAN KEBERSIHAN: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluhkan mengenai kebersihan ketika mengunjungi Museum Ranggawarsita, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KELUHKAN KEBERSIHAN: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluhkan mengenai kebersihan ketika mengunjungi Museum Ranggawarsita, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KELUHKAN KEBERSIHAN: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluhkan mengenai kebersihan ketika mengunjungi Museum Ranggawarsita, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KELUHKAN KEBERSIHAN: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengeluhkan mengenai kebersihan ketika mengunjungi Museum Ranggawarsita, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Museum Ranggawarsita masih terkesan angker. Jaring laba-laba di sudut ruangan dan kaca etalase yang mulai keruh menjadi atmosfer kurang mengenakkan. Terlebih, penerangan gedung penyimpan barang-barang kuno ini tergolong minimalis.

Melihat kondisi itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung memberikan banyak kritikan kepada Kepala Museum Ranggawarsita, Steven Timisela. ”Ini kaca etalasenya kalau bisa dilap. Dari dua sisi, luar dan dalam agar pengunjung bisa melihat barangnya dengan jelas. Lantainya dibersihkan. Sawang-sawang (jaring laba-laba) juga. Saya tidak mau ada kabel semrawut di tembok,” katanya.

Suasana angker tersebut, mungkin menjadi salah satu alasan mengapa tidak banyak pengunjung yang mau datang. Perlu ditata aspek penampilan, isi, dan penambahan inovasi. Dengan begitu, pengunjung akan merasa nyaman dan betah.

Politikus PDIP ini pun memberi masukan ke pengelola museum untuk menyediakan suvenir. Entah kaus, atau buku-buku kuno yang diterbitkan kembali. Sehingga orang keluar museum mendapat pengetahuan yang utuh. Kalau perlu, tiket masuk yang sekarang hanya Rp 4 ribu, dapat dinaikan menjadi Rp 20 ribu, asal include dengan suvenir. Bisa juga dengan membuat paket wisata. Dengan tiket Rp 100 ribu, selain bisa mengunjungi museum juga memperoleh suvenir, buku, dan VCD. ”Suvenir unik yang menggambarkan museum kita bisa diceritakan lewat diplomasi kaus oblong, lewat buku, atau VCD,” tegasnya.

Selain itu, pengelolaan museum juga perlu inovasi agar anak muda bersedia datang. Misalnya dengan menyediakan kafe yang nyaman dan perpustakaan yang lengkap. Sehingga orang akan betah berlama-lama ada di kompleks museum. Bagi Ganjar, museum bukanlah gedung untuk menyimpan barang-barang kuno. ”Museum itu sebuah perjalanan yang harus terus hidup,” katanya.