Kenali Gajah Tak Setengah-Setengah

Tiga Bulan Lagi Dian Diprediksi Beranak

277

Sebab dokter hewan tidak bisa bertindak sendirian menangani satwa buas apalagi berukuran ekstrabesar. “Ya seperti di rumah sakit. Suster kan lebih hebat menangani pasiennya,” ungkap Ligaya.
Menurut Ligaya, meskipun mahout telah memiliki pengalaman, pelatihan tersebut dapat menambah pengetahuan baru. Karena ada teknik baru yang diajarkan.

“Materi cukup komprehensif. Seperti perawatan, pemberian makan, dan kesehatan (gajah,Red). Jadi mereka (mahout, Red) harus paham tentang itu. Bagaimana penanganan agar satwa tidak stress,” urai Ligaya.

Salah seorang anggota PKBSI Drh. Wisnu Wardana menjelaskan, risiko merawat gajah cukup besar. Karena itu mahout harus memiliki keahlian khusus agar tetap aman, satwa nyawan.

“Kita ajarkan tentang cara melatih gajah seperti membuka mulut, mengangkat satu kaki dan sebagainya. Intinya yang diperlukan itu adalah kualitas SDM di setiap lembaga konservasi,” tandasnya.

Direktur Utama TSTJ Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM mahout dan elemen lainnya. “Pengelola lembaga konservasi jadi lebih memiliki kemampuan menangani satwa,” tutur dia.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Solo, di alam bebas populasi gajah di Indonesia hanya sekitar 1.700 ekor. Jumlah tersebut merosot dibandingkan 1985 yang mencapai 5.000 ekor. Mengacu data tersebut, artinya selama 30 tahun populasi gajah berkurang sebanyak 70 persen.

Di tengah anjloknya populasi gajah, masih ada secercah harapan. Dian, salah satu koleksi gajah TSTJ diprediksi beranak pada Juli-Agustus tahun ini. Karena itu kondisinya terus dipantau intensif. (ves/wa/JPG/ton)