Tafsir (Istimewa)
Tafsir (Istimewa)
Tafsir (Istimewa)
Tafsir (Istimewa)

MESKI telah menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah mengakui hingga saat ini masih terus belajar kepada agama Katolik. Terutama dalam bidang pengembangan pendidikan, kesehatan, maupun panti asuhan.

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir di sela-sela mengikuti seminar bertajuk memahami radikalisme dan terorisme di Indonesia yang digelar di Aula Rumah Sakit Roemani Semarang, Kamis (21/4).

Ia menjelaskan, hubungan Muhammadiyah dengan agama lain sangat baik. Karena alasan itulah tidak ada cita-cita bagi Muhammadiyah untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Menurutnya, hingga saat ini Pancasila masih menjadi falsafah terbaik untuk negeri ini. ”Bukan (ingin membentuk) negara Islam, tapi Muslim Society (masyarakat Islam),” imbuhnya.

Ditegaskan dia, Muhammadiyah akan terus membantu pemerintah dalam menanggulangi aksi terorisme di Indonesia. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan kepribadian organisasi. Akan tetapi, upaya tersebut harus tetapi dibarengi dengan pembelaan hak asasi manusia. ”Prinsip kami adalah amar ma’ruf nahi munkar,” tukasnya. (fai/ric/ce1)