Kastri Wahyuni (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kastri Wahyuni (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kastri Wahyuni (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Kastri Wahyuni (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MOMENTUM Hari Kartini banyak dimanfaatkan untuk refleksi bagi kaum perempuan. Terutama peran mereka dalam pembangunan selama ini. Saat ini, sudah banyak perempuan yang menduduki posisi-posisi strategis yang biasanya diisi oleh kaum Adam. Hal itu menunjukkan jika saat ini kaum perempuan sudah mendapatkan proporsi dalam hal pembangunan. Salah satu posisi strategis tersebut adalah kepala sekolah. Seperti halnya yang dirasakan oleh Kepala SMA Negeri 1 Semarang, Kastri Wahyuni.

Kisahnya sebagai Kartini modern patut untuk diteladani. Sejak kecil, ternyata ia sudah memiliki cita-cita sebagai seorang pengajar. Hal tersebut bukan tanpa alasan. Menurutnya, saat itu peran perempuan di zamannya sewaktu kecil, masih minim dalam pembangunan. Sehingga ia memiliki cita-cita untuk membangun perempuan melalui sektor pendidikan. “Karena dulu melihat perjuangan guru begitu gigih,” katanya.

Akhirnya, cita-cita tersebut terkabul seperti saat ini. Menurutnya, saat ini kemandirian perempuan masih banyak bergantung kepada orang lain. Ia sendiri lebih suka perempuan yang mampu mandiri dan eksis dalam pembangunan. Selain itu, mereka bisa bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Kegigihan Kastri dalam mendidik memang patut diacungi jempol. Ia pernah mengabdikan diri di wilayah pelosok untuk mengajar. “Itu dulu, awal-awalnya jadi seorang guru,” kenangnya.

Kondisi perempuan dulu jika dibandingkan sekarang menurutnya sangat berbeda. Meski begitu masih ada kesamaan di beberapa sisi. Seperti halnya sisi pendidikan. Masih banyak dijumpai wanita yang memiliki pendidikan rendah di daerah-daerah pinggiran. Sehingga dikhawatirkan berdampak terhadap pola asuh terhadap anak. “Perempuan memiliki pendidikan tinggi itu sangatlah perlu,” katanya.