Tarik Wisatawan, Pakai Baju Adat

260
LESTARIKAN BUDAYA: Resepsionis Star Hotel Semarang mengenakan busana adat saat melayani tamu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LESTARIKAN BUDAYA: Resepsionis Star Hotel Semarang mengenakan busana adat saat melayani tamu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LESTARIKAN BUDAYA: Resepsionis Star Hotel Semarang mengenakan busana adat saat melayani tamu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LESTARIKAN BUDAYA: Resepsionis Star Hotel Semarang mengenakan busana adat saat melayani tamu. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Ada yang berbeda setiap Jumat di Star Hotel Semarang. Semua karyawan dari tingkat bawah sampai Top Manager menggunakan pakaian adat mulai dari batik, kebaya, hingga beskap. Tujuannya adalah memberi ciri khas hotel sekaligus nguri-uri budaya yang ditinggalkan nenek moyang.

Public Relations Executive Star Hotel Semarang, Ratih Sotyaningtyas mengatakan jika pihak manajemen memberikan arahan wajib menggunakan pakaian adat setiap Jumat. ”Arahan berupa kebijakan ini sebagai langkah mendongkrak okupansi, pariwisata sekaligus nguri-uri budaya yang ada,” katanya kemarin.

Menurut dirinya, pihak hotel memberikan kebebasan untuk bereksplorasi. Bukan menjadi tekanan, kebijakan tersebut justru membuat segenap karyawan mengeluarkan ide kreatif. Contohnya ada karyawan di meja resepsionis memakai blangkon, lengkap dengan kain luriknya. Sementara untuk karyawati mau menggunakan kebaya. ”Mereka malah menikmati. Jadi tidak ada rasa paksaan atau tekanan,” jelasnya.

Sementara itu General Manager Star Hotel Semarang, Benk Mintosih mengaku jika kebijakan tersebut juga digunakan untuk mendongkrak sektor pariwisata yang ada. Pria yang juga pendiri penggiat wisata Kota Semarang itu berharap jika bukan hanya di Star Hotel saja. Penggunaan baju adat setiap Jumat bisa ditiru oleh semua hotel yang ada di Semarang. ”Hotel juga insan pariwisata, jadi juga harus meramaikan wisata Kota Semarang. Kalau wisata ramai, hotel juga pasti penuh okupansinya,” terangnya..

Dengan adanya kebijakan tersebut, menurut dirinya okupansi di Star Hotel mengalami peningkatan yang cukup signifikan untuk weekend. Padahal biasanya saat akhir pekan, okupansi hotel sangat lesu. ”Okupansi bisa terdongkrak naik di akhir pekan dengan angka yang hampir sama dengan hari biasa sekitar 70 persen, ini sebagai bukti jika Semarang sudah diminati dan tak kalah dengan Jogjakarta ataupun Solo,” tutupnya. (den/ric/ce1)