Pertimbangkan Bangun Monorel

520

Djoko Setijowarno

KEINGINAN Wali Kota Semarang membangun monorel di Kota Semarang perlu dipertimbangkan lebih matang lagi. Pasalnya, Kota Jakarta yang sudah lama menggadang-gadang adanya monorel, batal dilanjutkan. Bahkan, setelah dikaji ulang, justru tidak layak. Jika dioperasikan, harus mendapat subsidi dari pemerintah yang jumlahnya cukup besar bila dibandingkan dengan menggelontorkan subsidi buat transportasi umum berbasis jalan raya.

Berbeda lagi dengan Jabodetabek dan Palembang yang sedang giat membangun transportasi umum berbasis jalan rel. Di Kawasan Jabodetabek sedang dibangun Mass Rapid Transit (MRT) sepanjang 23,8 km dari keseluruhan 108,8 km, Light Rail Transit (LRT) sepanjang 108,7 km dalam kota Jakarta dan 130,4 km Jabodetabek serta kereta Bandara Soekarno Hatta sejauh 36,3 km. Di Palembang dibangun LRT sepanjang 23 km. Untuk kedua kota ini, pembangunan transportasi umum memang dipercepat karena faktor geopolitik, mengatasi persoalan transportasi menjelang Asian Games 2018.

Perlu dicermati lebih dalam bahwa untuk membangun transportasi berbasis jalan rel, jauh lebih mahal ketimbang jalan raya. Biaya per kilometer untuk membangun jalan rel sebesar Rp 30 miliar, kereta ringan (LRT) sebesar Rp 300 miliar, kereta masal (MRT) sebesar Rp 1,3 triliun, monorel Rp 220 miliar. Biaya sebesar ini belum termasuk belanja untuk membeli sarana kereta. Belum terhitung pula membeli lahan dan membangun depo (perawatan rutin) dan balai yasa (over haul). Untuk membangun 30 kilometer monorel butuh Rp 6,6 triliun. Satu setengah kali nilai APBD Kota Semarang. Sedangkan APBD Kota Semarang 2016 hanya Rp 4 triliun.

Sementara itu, untuk pengadaan bus besar Rp 1,2 miliar per unit armada dan Rp 600 juta untuk bus sedang. Pembangunan halte sederhana, tidak lebih dari Rp 50 juta per lokasi. Jauh lebih murah dan lebih cepat pengerjaannya. Bahkan kelebihan lainnya, dapat menjangkau dan mendekati kawasan perumahan dan permukiman.