RUKUN: Salah satu kelompok etnis yang tinggal di Salatiga memperagakan kesenian khas daerah asalnya pada masyarakat Salatiga. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
RUKUN: Salah satu kelompok etnis yang tinggal di Salatiga memperagakan kesenian khas daerah asalnya pada masyarakat Salatiga. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
RUKUN: Salah satu kelompok etnis yang tinggal di Salatiga memperagakan kesenian khas daerah asalnya pada masyarakat Salatiga. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)
RUKUN: Salah satu kelompok etnis yang tinggal di Salatiga memperagakan kesenian khas daerah asalnya pada masyarakat Salatiga. (DHINAR SASONGKO/RADAR SEMARANG)

SALATIGA – Kemeriahan begitu tampak dalam pawai budaya Indonesian International Culture Festival (IICF) yang berlangsung di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Sabtu (16/4) lalu. Budaya dari 19 etnis di Indonesia ditampilkan dalam kegiatan yang digelar Senat Mahasiswa Universitas (SMU) UKSW dengan tema Bhineka Tunggal Ika ini.

Anggraeni Upik Pratiwi dari Biro Promosi dan Hubungan Luar UKSW menjelaskan, etnis yang berpartisipasi dalam kegiatan ini di antaranya dari Poso, Jawa, Sumba, Talaud, Toraja, Minahasa, Batak Simalungun, Palembang, Maluku, Batak Karo, Kupang, Halmahera, Lampung, Papua, Kalimantan, Nias, Batak Toba dan juga perwakilan dari Timor Leste. Rute pawai dimulai dari Lapangan Sepak Bola UKSW – Jalan Diponegoro – Jalan Monginsidi – Jalan Kartini – Jalan Moh. Yamin – Jalan Langensuko – Bundaran Kaloka – Jalan Diponegoro – Kampus UKSW.

“Warna lain diberikan pada pawai tahun ini karena masing-masing etnis tidak hanya menampilkan pakaian tradisionalnya saja, tetapi juga permainan tradisional yang dipraktekkan di tiga titik, yaitu Jalan Kartini, depan hotel Mutiara dan Bundaran Kaloka,” jelasnya. IICF juga menampilkan festival kuliner khas etnis diadakan juga di Lapangan Basket UKSW pada 20-21 April mendatang.

Selain barisan 19 etnis, pawai juga dimeriahkan dengan drum blek, reog dan topeng ireng. Pawai dilepas secara resmi oleh Rektor UKSW Prof Pdt John A Titaley, dan Wali Kota Salatiga Yuliyanto. “Belum lama ini, Salatiga telah memperoleh predikat kota paling toleran. Hal ini tentu tak lepas karena peran UKSW dengan pluralitasnya. Kami perlu dan berkewajiban pula untuk selalu mendukung kerukunan tersebut,” kata John A Titaley.

Yuliyanto berharap, lewat kegiatan ini, masyarakat yang tinggal di Salatiga bisa menjaga perdamaian dan persaudaraan antaretnis. Apalagi Salatiga juga dikenal sebagai Indonesia mini karena banyak ditinggali warga dari berbagai etnis.

“Mahasiswa yang berada di UKSW merupakan bagian dari warga Kota Salatiga. Karena itu, kami mengajak untuk seluruh warga dapat selalu menjaga kebersamaan demi terciptanya keamanan, ketertiban, serta perdamaian di kota tercinta ini,” papar Yuliyanto. (sas/JPG/ton)