SEMARANG – Pembangunan jalan tol Semarang-Solo butuh intervensi Gubernur Jawa Tengah. Jika dibiarkan seperti sekarang, proyek ini bakal semakin molor dan tidak bisa digunakan saat Lebaran besok. Saat ini saja, progres pembangunan fisik baru mencapai 31,489 persen.

Anggota Komisi D DPRD Jateng, M. Ngainirrichadl menuturkan, pembebasan lahan masih menjadi kendala utama. Selain menyulitkan pelaksana proyek, masyarakat yang sudah mengharapkan adanya pembangunan pun akan merasa kecewa. ”Gubernur harus turun tangan untuk membantu membebaskan lahan. Terutama menyelesaikan masalah sosialnya. Banyak masyarakat yang sudah menunggu pembangunan tersebut cepat selesai, dan banyak juga yang mempertanyakan keseriusan pelaksana proyek,” terang politikus PPP ini.

Selain itu lanjutnya, penambahan jumlah pekerja juga harus dipertimbangkan. Ini untuk mengejar target pembangunan fisik jalan agar bisa digunakan saat arus mudik Lebaran 2016. ”Kalau perlu, peralatan atau alat berat juga harus disesuaikan untuk percepatan,” imbuhnya.

Direktur Teknik dan Operasi PT Trans Marga Jateng (TMJ) Arie Irianto mengakui, keterbatasan jumlah pekerja memang menjadi kendala. Dijelaskannya, program pembebasan lahan tol pada ruas seksi III Bawen-Salatiga masih kurang 7,3 persen, termasuk tanah kas desa sebesar 5 persen. Meski begitu, lahan itu sudah bisa dikonstruksi sembari menunggu ganti rugi.

”Per 7 April 2016, asumsi lahan bebas 100 persen. Prinsipnya proyek bisa diselesaikan jika lahan sudah bebas 100 persen dan bisa dikonstruksi. Namun butuh waktu untuk menyelesaikan konstruksi sejak lahan bebas 100 persen,” bebernya.