Nurjanah (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Nurjanah (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Nurjanah (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Nurjanah (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAUM difabel atau mereka yang berkebutuhan khusus kerap dianggap sebelah mata. Padahal, ketika diarahkan, mereka mampu melahirkan karya yang tidak kalah dari orang normal.
Alasan itulah yang membuat Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Semarang, Nurjanah ingin memberdayakan kaum difabel di klaster-klaster Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan. ”Sektor batik tulis yang paling banyak menyerap difabel. Soalnya membatik tidak terlalu perlu kekuatan fisik,” bebernya.

Dia melihat, secara kinerja dan produksi, kaum difabel tidak beda jauh dari orang normal. Semangat mereka justru lebih berkobar. Selalu ada keseriusan dan mau belajar memperbaiki kesalahan.

Menurut Nurjanah, kaum difabel tetap mempunyai hak sebagai warga negara Indonesia (WNI), termasuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan ketika produknya dibawa ke pameran-pameran, banyak yang tidak percaya kalau itu bikinan kaum difabel. ”Rencananya, dalam sosialisasi Konsumen Cerdas di Balai Kota, mereka akan kami undang untuk pameran dan memberikan semacam demo membatik,” pungkasnya. (amh/ric/ce1)