3 Hakim Semarang Lolos Seleksi Hakim Agung MA

286
TAMU REDAKSI: Kunjungan komisioner KY RI dan KY Jateng di kantor Jawa Pos Radar Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAMU REDAKSI: Kunjungan komisioner KY RI dan KY Jateng di kantor Jawa Pos Radar Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAMU REDAKSI: Kunjungan komisioner KY RI dan KY Jateng di kantor Jawa Pos Radar Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAMU REDAKSI: Kunjungan komisioner KY RI dan KY Jateng di kantor Jawa Pos Radar Semarang, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dari 84 peserta seleksi kualitas calon hakim agung (CHA) yang dilakukan Komisi Yudisial (KY) Republik Indonesia (RI) akhirnya secara resmi 39 CHA sudah diumumkan dan dinyatakan lolos tahap seleksi kualitas, berdasarkan pengumuman hasil seleksi tahap II CHA RI tahun 2016 dengan No: 06/PENG/PIM/RH.01.01/4/2016.

Dari 39 CHA yang dinyatakan lolos tersebut jelas memberikan kebanggaan bagi warga Kota Semarang dan Jawa Tengah karena 3 di antaranya adalah hakim yang sedang bertugas di Kota Semarang. Yakni pertama lolos seleksi bidang kamar perdata diraih oleh Nommy HT Siahaan yang tidak lain adalah Ketua Pengadilan Tinggi (PT) Semarang dan dua lainya lolos seleksi bidang hakim ad hoc tindak pidana korupsi (Tipikor) di Mahkamah Agung (MA) yakni, Dermawan S Djamian yang merupakan hakim ad hoc PT Semarang dan Sinintha Yuliansih Sibarani yang merupakan hakim ad hoc Tipikor Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

”Dari 39 CHA yang lolos seleksi tahap II ada tiga hakim yang berasal dari Kota Semarang. Rinciannya CHA yang lolos perdata 17, pidana 7, tata usaha negara 6, agama 5 dan militer 4,” kata Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi, Farid Wajdi didampingi pegawai KY RI dan penghubung KY Jateng saat melakukan kunjungan redaksi di Kantor Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (14/4).

Farid juga mengakui lembaganya tidak dikenal publik setenar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), karena tidak banyak tindakan pihaknya yang terpublikasi sehingga tidak tampak seksi. Namun pihaknya menegaskan KY bergerak di ranah etik hakim sehingga semua senyap dan jarang terpublikasi. ”KY memang kerjanya tidak terlihat dan senyap, jadi kebanyakan mengeksekusi di bagian hilir dan memeriksa sembunyi-sembunyi dulu. Nantinya kalau ada laporan pelanggaran kode etik, kami juga akan proses sesuai kategorinya apakah ringan, sedang atau berat,” sebutnya.