Jangan seperti Pangkalan Truk

Wacana Terminal Terboyo Jadi Terminal Barang

412

terminal-angkutan-barang-web

SEMARANG – Pembangunan terminal angkutan barang harus memenuhi persyaratan teknis, standar kualitas bangunan, keandalan, keamanan, kenyamanan dan estetika. Karena itu, wacana Pemkot Semarang untuk menjadikan Terminal Terboyo sebagai terminal angkutan barang harus melalui perencanaan yang matang.

”Kota Semarang harus ada terminal barang. Tapi bukan asal ada terminal angkutan barang. Buatlah terminal angkutan barang modern yang dilengkapi dengan fasilitas IT (teknologi informasi), sehingga bisa menjual,” ujar pengamat transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (13/4).

Ia menjelaskan, ada kriteria untuk memilih lokasi terminal angkutan barang. Antara lain, dukungan terhadap rencana pengembangan, kinerja lalu lintas, keterpaduan moda transportasi, jaringan lintas dan kelas jalan, keterhubungan dan pusat ekonomi, serta kebutuhan biaya pembangunan dan indikasi dampak lingkungan. ”Dulu pernah ada terminal angkutan barang di Mangkang yang sekarang jadi terminal penumpang Mangkang,” katanya.

Ditambahkan Djoko, terminal angkutan barang harus dibuat senyaman mungkin. Sehingga tidak dijadikan sebagai tempat mangkal prostitusi seperti di pangkalan truk. Karenanya, dengan adanya fasilitas IT akan jelas dan mudah diketahui dengan cepat jumlah kendaraan truk keluar dan masuk.

”Kalau nantinya cuma seperti pangkalan truk di Batang atau daerah lain yang kumuh, lebih baik tidak usah dibangun,” ujarnya seraya meminta pembangunan terminal angkutan barang harus dilengkapi kamera CCTV agar dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan.

Djoko menegaskan, ada sejumlah persoalan angkutan barang di Indonesia. Misalnya, bebas masuk menembus jantung kota, banyak perjalanan truk yang kosong, laju truk dalam mixed traffic yang sangat lambat, antrean di pelabuhan, loading-unloading angkutan barang di tengah perjalanan yang sering mem-blocking arus lalu lintas, overloading (muatan lebih), dan terbatasnya fasilitas terminal angkutan barang. ”Makanya harus jelas konsepnya mau seperti apa. Jangan sekadar membangun terminal untuk PAD (pendapatan asli daerah) saja,” katanya.