Hevearita Gunaryanti Rahayu (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Hevearita Gunaryanti Rahayu (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pasca dilantik menjadi Ketua Badan Pengelolaan Kawasan Kota Lama (BPK2L) beberapa waktu lalu, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu langsung mengambil langkah penataan kawasan heritage tersebut. Yang pertama adalah membersihkan kawasan Kota Lama dari para pedagang kaki lima (PKL).

Ia menuturkan, selama ini masih banyak kegiatan di kawasan Kota Lama yang tidak membuat nyaman. Antara lain keberadaan PKL yang semrawut, arena sabung ayam, dan kehidupan malam yang mengganggu masyarakat sekitar. ”Untuk PKL, kami tegaskan tidak akan menggusur. Namun bagaimana menempatkan mereka agar nyaman dalam mencari penghidupan,” ujarnya.

Setelah membuat kawasan Kota Lama nyaman, lanjut Mbak Ita, sapaan akrabnya, baru dilakukan klasterisasi kawasan sebagai destinasi wisata agar optimal. ”Minimal membuat kawasan nyaman dulu. Hal-hal yang tidak semestinya di sini akan mulai dibersihkan,” ujar Mbak Ita.

Ditambahkan dia, kawasan Kota Lama awalnya memang bukan destinasi wisata. Akan tetapi living heritage atau warisan budaya yang hidup. Karenanya, upaya yang dilakukan BPK2L adalah mengembalikannya tetap hidup. ”Baru kalau sudah hidup, akan jadi destinasi wisata,” sambungnya mengaku telah menghubungi pemilik gedung untuk bersama-sama melakukan revitalisasi.

Ita menegaskan, BPK2L akan membuat standar operasional prosedur (SOP) yang menjadikan pedoman dalam penataan kawasan Kota Lama Semarang agar langkah yang dilakukan bisa sinergi. Menurutnya, jika tidak ada pedoman, maka dalam penanganannya akan berbeda dari masa ke masa. ”Makanya, kami akan buat SOP agar langkahnya benar. Kami sudah mapping mana saja yang harus dibenahi,” tukasnya.

Agus S Winarto, salah satu pemilik gedung tua Oie Tiong Ham yang berada di Jalan Kepodang 1113, mengatakan, pihaknya berencana membuat gedung miliknya menjadi mini museum batik dan workshop batik. Menurutnya, gedung tersebut dulu pernah dijadikan sebagai pusat administrasi ekspor impor Oei Tiong Ham dan pernah dipakai oleh beberapa perusahaan. ”Saat ini mulai kami bersihkan dan akan difungsikan menjadi tempat edukasi batik seperti museum batik, workshop, pameran dan pelatihan membatik,” ujarnya.

Agus berharap Jalan Kepodang yang selama ini dijadikan jual beli ayam harus ditata sesuai peruntukannya agar tidak terlihat kumuh. Bahkan ia mengaku optimistis kawasan tersebut akan menjadi tempat menarik jika ditata rapi. ”Kalau bisa Jalan Kepodang ditata, nanti bisa diperuntukkan untuk pameran batik dan fashion show batik berjalan,” harapnya. (fai/zal/ce1)