BERHARAP KEADILAN: Sri Mulyati didampingi kuasa hukumnya dari LBH Mawar Saron Semarang ketika mengadukan masalahnya di Kemenkum dan HAM. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERHARAP KEADILAN: Sri Mulyati didampingi kuasa hukumnya dari LBH Mawar Saron Semarang ketika mengadukan masalahnya di Kemenkum dan HAM. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERHARAP KEADILAN: Sri Mulyati didampingi kuasa hukumnya dari LBH Mawar Saron Semarang ketika mengadukan masalahnya di Kemenkum dan HAM. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERHARAP KEADILAN: Sri Mulyati didampingi kuasa hukumnya dari LBH Mawar Saron Semarang ketika mengadukan masalahnya di Kemenkum dan HAM. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kemenangan Sri Mulyati terhadap negara ternyata hanya di atas kertas belaka. Hingga hari ini, ibu rumah tangga itu belum bisa mendengar gemerincing rupiah di kantongnya atas perkara yang ditangani aparat Polrestabes Semarang karena dirinya menjadi tumbal dalam perkara tindak pidana eksploitasi anak yang terjadi di Karaoke ACC yang terletak di kompleks Ruko Dargo Blok D, Kota Semarang.

Sri dituduh mempekerjakan anak di bawah umur di sebuah tempat karaoke di Semarang pada 2011 lau. Padahal, Sri hanyalah kasir di tempat karaoke itu tapi dijadikan tumbal oleh atasannya. Bosnya bebas dan Sri harus meringkuk di hotel prodeo tanpa dosa.

Tak kunjung mendapatkan pencairan ganti rugi dari negara atas kasus yang menjeratnya tersebut, Sri akhirnya mengadukan permasalahanya ke Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dalam suratnya yang telah dikirimkan pada akhir Maret 2016 lalu.

Sri berharap Presiden RI dapat memberi perhatian khusus terhadap perkaranya, sehingga ia bisa merasakan kehadiran negara yang melindungi warga negaranya yang telah mengalami peradilan sesat.