SEMARANG – DPRD Jateng menyorot minimnya kesejahteraan guru honorer dan guru mengaji di provinsi ini. Sebab, banyak guru honorer yang setiap bulan hanya mendapatkan honor Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Dewan mendesak pemprov benar-benar memperhatikan kondisi tersebut karena mereka juga memiliki peran dalam pendidikan di Jateng.

Anggota Komisi E DPRD Jateng Yudi Indras Wiendarto meminta pemprov memperhatikan tenaga pendidik tersebut. Sebab, dewan kerapkali mendapatkan keluhan dari masyarakat, karena terkesan mengabaikan. ”Masak guru ngaji hanya mendapatkan Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu per bulan, itu pun ada yang satu tahun baru dikasihkan. Ini kan sangat ironis,” katanya, kemarin.

Guru honorer dan guru ngaji selama ini sudah sangat berperan dalam pendidikan di Jateng. Bahkan guru mengaji merupakan peletak dasar nilai-nilai agama anak-anak di masjid, musala atau madrasah. Sehingga, pada hakikatnya mereka pionir revolusi mental masyarakat. ”Karena dari mereka anak-anak kita belajar dasar-dasar agama, yang menjadi fondasi agar memiliki akhlakul karimah, dan kepribadian yang humanis,” ujarnya.

Selama ini pemprov masih setengah hati dan kurang mempedulikan nasib keduanya. Buktinya, pemprov lebih banyak memikirkan guru-guru yang sudah berstatus negeri dengan tunjangan yang besar. Tapi kondisi guru honorer 180 persen berbalik. ”Ini sebenarnya sudah masalah lama, tapi tetap tidak ada perhatian dari pemprov maupun pemerintah daerah,” tambahnya.

Pemprov sejauh ini masih belum berpihak pada lembaga pendidikan kegamaan di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Ini sesuai Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 56 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pemberian Bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa di Provinsi Jawa Tengah. Bantuan untuk bidang pendidikan lebih memprioritaskan untuk pengadaan sarana prasarana perpustakaan desa atau taman bacaan. ”Padahal pendidikan keagamaan sangat penting dan sebagai benteng bagi anak kelak ketika sudah dewasa,” kata Sekretaris Komisi E DPRD Jateng, Hasan Asyari.

Mestinya pendidikan keagamaan harus bisa mendapatkan perhatian, terutama guru-guru mengaji yang selama ini mengabdi tanpa pamrih. Bagaimanapun mereka memiliki peran yang besar dalam kemajuan pendidikan moral anak bangsa. ”Pemprov harus memikirkan nasib guru honorer dan guru mengaji di Jateng,” tambahnya. (fth/ric/ce1)