Keberagaman atau Kesatuan Budaya

227

Oleh: Djawahir Muhammad

JAUH sebelum pendiri Kota Semarang -Made Pandan atau Ki Ageng Pandan Arang- bermukim di Pulau Tirang yang terdiri atas perbukitan Bergota dan Mugas, pada 1406 di Pantai Simongan berlabuh sebuah kapal dari Negeri Tiongkok yang dipimpin oleh Laksamana Ceng Ho (Sam Poo Tay Djien atau Sam Po Toa Lang) utusan dari Kaisar Chu Ti (Zhu Di) untuk mengunjungi negeri-negeri yang jauh dari Tiongkok.

Ketika melewati laut Jawa, tepatnya di Simongan, Semarang, konon beliau singgah sebentar untuk menurunkan seorang awak kapalnya bernama Ong King Hong yang sakit agar dapat dirawat. Pada masa itu, Simongan masih menjadi dermaga Kerajaan Mataram Hindu Syailendra yang berlokasi di sekitar Pegunungan Dieng (sekitar Wonosobo). Kerajaan yang didirikan oleh Wangsa Syailendra pada masa Pemerintahan Pramodhawardani itu terpaksa berpindah ke Jawa Timur karena terjadinya maha pralaya (bencana besar) akibat meletusnya Gunung Merapi (Budiman, 1978; 22).

Di Simongan, Ong King Hong dirawat oleh penduduk setempat hingga sakitnya sembuh. Namun sesudah sakitnya sembuh, Ong King Hong memilih untuk menetap di tempat itu. Beliau menikah dengan penduduk setempat serta mengajar mereka cara-cara bercocok tanam dan pengobatan. Ong King Hong yang disebut penduduk setempat sebagai Kiai Jurumudi mendirikan sebuah masjid untuk menghormati Sang Laksamana (Ceng Ho) yang beragama Islam dan telah sudi menolongnya. Meskipun bagi masyarakat sejarahwan, pendaratan Ceng Ho di Semarang masih diperdebatkan kebenarannya (di Simongan, Wakang atau Mangkang, atau tidak pernah mendarat sama sekali di Semarang?). Namun momentum tersebut sekurang-kurangnya merupakan tonggak sejarah kehadiran bangsa Tiongkok di Semarang.

Silakan beri komentar.