NGURI-URI BUDAYA: Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat pentas ketoprak. (DOKUMEN UKM KETAWANG)
NGURI-URI BUDAYA: Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat pentas ketoprak. (DOKUMEN UKM KETAWANG)
NGURI-URI BUDAYA: Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat pentas ketoprak. (DOKUMEN UKM KETAWANG)
NGURI-URI BUDAYA: Mahasiswi Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat pentas ketoprak. (DOKUMEN UKM KETAWANG)

Seni ketoprak kerap dianggap kesenian yang ketinggalan zaman. Tak heran, jika banyak generasi muda yang melupakan kesenian warisan nenek moyang ini. Namun demikian, masih ada segelintir generasi muda di kampus yang peduli dengan seni ketoprak. Mereka mencoba memopulerkan kembali ketoprak melalui sentuhan-sentuhan modernisasi. Seperti apa?

DI Kota Semarang, ada sejumlah perguruan tinggi yang peduli dengan seni ketoprak. Mereka membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Ketoprak. Di Universitas Negeri Semarang (Unnes) misalnya. Di kampus ini, para mahasiswa yang berminat dalam kesenian ketoprak tergabung dalam UKM Ketoprak Ketawang. UKM ini dibentuk sejak 1998 atau sudah 18 tahun lalu.

Ketua UKM Ketoprak Ketawang, Noor Kholis, mengisahkan, UKM ini terbentuk saat Unnes masih bernama IKIP Negeri Semarang. Kebetulan saat itu, PTN yang awalnya berkampus ini di Jalan Kelud Raya ini memiliki beberapa mahasiswa yang peduli dengan kesenian ketoprak. Selain itu, di jurusan Bahasa Jawa juga terdapat mata kuliah ketoprak. “Iseng sama kawan-kawan sesama pecinta ketoprak, lalu mengajukan ke rektor hingga diterima menjadi UKM ketoprak,” jelas Noor Kholis kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (9/4).

Dikatakan, nama Ketawang sendiri muncul dari guyonan para pemain ketoprak itu di atas panggung. Di mana pada saat itu, UKM ini tidak ada yang mendanai. Ketawang sendiri merupakan sebuah nama dari plesetan “Ketoprak Tidak Punya Uang.” Pada 1998, IKIP Negeri Semarang yang berubah bentuk menjadi universitas membuat UKM ketoprak semakin tertata organisasinya.

Hingga pada 2001 bergabung dengan UKM seni yang ada di Unnes. Di Kota Semarang, hanya ada di dua universitas, yakni Unnes dan IKIP PGRI (sekarang Upgris) yang hingga kini masih memiliki UKM Kesenian Ketoprak. “Ketoprak itu sebenarnya sulit, karena di dalamnya harus menguasai karawitan, seni tari, dan tembang Jawa,” ujar Noor.