Pendiri sekaligus Ketua Komunitas Difabel Semarang, Noviana Dibyantari, mengakui, awalnya memang susah untuk mendapatkan SIM D bagi kaum difabel. Akan tetapi karena adanya advokasi kepada pemerintah maupun pihak kepolisian, akhirnya lambat laun menjadi lebih mudah.

”Kemarin Bu Ita (Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita GR) sempat berkomunikasi dengan Kepala Samsat. Kami ingin kaum difabel mudah mendapatkan SIM D berdasarkan rekomendasi dari dokter,” ujarnya mengaku terinspirasi dari Jogjakarta dan DKI Jakarta.

Novi –sapaan akrabnya- mengakui, saat ini usaha untuk mendapatkan SIM D bagi tunadaksa menjadi lebih mudah. Akan tetapi, bagi tunarungu masih mengalami banyak kesulitan. Karenanya, ia akan terus berusaha bagaimana mereka dapat memiliki SIM D berdasarkan tingkat ketulian mereka. ”Sebenarnya ketika berkeliaran di jalan, kami tidak ditilang. Tapi dianggap memenuhi jalan karena motor kami rata-rata beroda tiga,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Novi, jumlah difabel di Kota Semarang dan Kabupaten Semarang yang telah memiliki SIM D saat ini mencapai 50 orang. Padahal, jumlah mereka yang terdata mencapai ratusan orang. Karenanya, pihaknya akan terus melakukan advokasi kepada pihak terkait agar mendapatkan fasilitas yang diharapkan. ”Tidak hanya untuk SIM D saja, tetapi juga berbagai akses lainnya. Misalnya, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Untuk mengakomodasi hal tersebut, Novi mengaku kerap menggandeng komunitas lain untuk bergerak bersama. Jika hal tersebut disuarakan bersama-sama, maka akan memiliki bargaining di hadapan pemerintah dan instansi lainnya.

”Kami tidak bosan melakukan blusukan mencari teman-teman difabel yang masih tersembunyi. Harapannya, mereka mendapatkan hak-haknya sesuai amanat undang-undang,” katanya. (*/aro/ce1)