SEDIKIT PEMINAT: Penumpang membayar tarif usai naik angkutan kota (angkot) di Kota Semarang. Penurunan tarif angkot dianggap semakin membebani pengusaha karena jumlah penumpang terus menyusut. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)
SEDIKIT PEMINAT: Penumpang membayar tarif usai naik angkutan kota (angkot) di Kota Semarang. Penurunan tarif angkot dianggap semakin membebani pengusaha karena jumlah penumpang terus menyusut. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)
SEDIKIT PEMINAT: Penumpang membayar tarif usai naik angkutan kota (angkot) di Kota Semarang. Penurunan tarif angkot dianggap semakin membebani pengusaha karena jumlah penumpang terus menyusut. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)
SEDIKIT PEMINAT: Penumpang membayar tarif usai naik angkutan kota (angkot) di Kota Semarang. Penurunan tarif angkot dianggap semakin membebani pengusaha karena jumlah penumpang terus menyusut. (Nurchamim/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Rencana penurunan tarif angkutan kota (angkot) sebesar 3 persen seiring penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) dirasa tidak berpengaruh. Hal itu justru makin membebani para pengusaha angkot. Sebab, dilihat dari penyesuaian tarif sebelumnya, tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah penumpang.

”Kalau angkot digratiskan, penumpangnya tidak akan bertambah. Jadi penyesuaian tarif ini memang tidak ada pengaruhnya,” ucap pengamat transportasi Djoko Setijowarno ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Dikatakannya, selama ini pengusaha angkot sudah kembang kempis meski menggunakan tarif lama. ”Jika tarifnya diturunkan, apakah pemerintah mau memberi perhatian lebih kepada mereka? Apa mau memberi subsidi? Nggak ada penumpang kok malah tarifnya diturunkan,” bebernya.