Diskriminasi Tinggi Badan

477
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG
ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG

ADANYA aturan tinggi badan minimal dalam mencari kerja ataupun masuk perguruan tinggi tertentu, bukanlah hal yang baru. Tapi aturan tersebut dinilai mendiskriminasi mereka yang bertinggi badan minimalis. Ditolak kerja atau kuliah karena tinggi badan kurang pastilah membuat orang menjadi sakit hati. Ini juga yang pernah dialami Vincentia Nurullita Indriani.

Dara manis yang akrab disapa Litha ini mengaku pernah ditolak masuk sebuah perguruan tinggi dengan basis kesehatan dengan alasan tinggi badannya tidak memenuhi syarat. Akhirnya, dengan berat hati, ia mencari kampus lain dan memilih mendaftar di Graha Wisata Semarang.

”Menurut saya sih itu diskriminasi, sempet sakit hati sih. Dari situlah saya banting setir ke kampus lain, ambil D1,” kata dara kelahiran Batang, 5 Januari 1992 ini.

Padahal Litha memiliki basic ilmu pengetahuan alam (IPA) saat duduk di bangku SMA. Meski begitu, ia tetap berusaha legawa dan menjalani kehidupan barunya yang sama sekali tidak ia mengerti, apalagi background keluarganya adalah orang-orang kesehatan.