Jateng Belum Terdampak MEA

183

SEMARANG – Kekhawatiran hadirnya tenaga kerja profesional (skilled labour) di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) hingga saat ini belum terbukti. Meski sudah berlangsung nyaris empat bulan, belum ada lonjakan tenaga kerja asing (TKA) yang bekerja di industri di Jawa Tengah.

Dari data Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan (Disnakertransduk) Jawa Tengah, hanya segelintir penambahan jumlah TKA ketika MEA resmi dibuka. Pada Desember 2015, terhitung ada sebanyak 1.814 TKA. Sementara di Januari 2016, ada 1.823 TKA, dan Februari 2016 1.826 TKA.

”Data TKA ini masih umum atau dari 58 negara. Bukan hanya negara-negara Asia Tenggara saja. Kalau data di bulan Maret, belum direkap,” ucap Kepala Disnakertransduk Jawa Tengah, Wika Bintang, kemarin.

Dari jumlah itu, lima TKA terbesar justru bukan dari ASEAN. Yang paling banyak adalah Tiongkok dengan 579 pekerja, disusul Korea Selatan 324 pekerja, India 128 pekerja, Jepang 125 pekerja, dan Taiwan 126 pekerja. Sementara anggota ASEAN, tidak sampai 100 pekerja yang masuk ke provinsi ini. Filipina hanya 64, Malaysia 51 pekerja, dan Thailand 11 pekerja.

Dikatakan Wika, para pekeja asing banyak mengincar sektor padat karya. Seperti tekstil 283 pekerja, pakaian jadi 137 pekerja, perdagangan barang 114 pekerja, furnitur dan mebel 105 pekerja, serta perdangan besar 100 orang. Mengenai lokasi penempatan cukup merata di beberapa daerah di Jawa Tengah.

”Kebanyakan di daerah-daerah industri. Seperti di Kota Semarang ada 260 pekerja, Ungaran 161 pekerja, Jepara 78 pekerja, Sukoharjo 62 pekerja, serta Boyolali dan Karanganyar 42 pekerja,” tegasnya.