TARIF TETAP: Sejumlah armada angkutan kota diparkir di kawasan Kota Lama, Semarang. Meski harga BBM turun, pengusaha angkutan umum belum menurunkan tarif. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TARIF TETAP: Sejumlah armada angkutan kota diparkir di kawasan Kota Lama, Semarang. Meski harga BBM turun, pengusaha angkutan umum belum menurunkan tarif. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KARANGANYAR – Tarif angkutan umum perkotaan (angkot) dan pedesaan (angkudes) mulai diturunkan hari ini. Tarif tersebut disesuaikan dengan harga bahan bakar minyak (BBM).

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Karanganyar Agus Cipto Waluyo menjelaskan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pengusaha angkutan umum untuk menentukan tarif baru. Hasilnya disepakati tarif angkot dan akudes diturunkan tiga hingga lima persen dari tarif sebelumnya.

”Misalnya untuk tarif angkot Palur-Bejen yang sebelumnya Rp 5.300, kini diturunkan menjadi Rp 5.000. Tarif turun Rp 300 sampai Rp 500 rupiah,” terang Agus kemarin,(4/4).

Dijelaskan, tarif baru tersebut mulai diterapkan hari ini (5/4). Tarif baru hasil kesepakatan Dishubkominfo dengan Organisasi Angkutan Darat (Organda) Karanganyar, perwakilan pelaku usaha angkot dan angkudes.

”Meskipun tarifnya turun, tapi yang dibebankan kepada penumpang terkadang juga di bawah tarif yang ditetapkan. Misalnya Palur-Bejen biasanya ditarik Rp 4.500 saja,” ujarnya.

Meski sudah disepakati bersama, namun pelaku usaha angkot berharap penumpang bisa tertib dalam membayar. Pasalnya, tidak sedikit dijumpai penumpang yang membayar jauh di bawah tarif yang ditetapkan. ”Misalnya dari tarif Rp 4.500 hanya membayar Rp 3.000 saja. Ini yang masih dikeluhkan para sopir,” tuturnya.

Penyesuaian tarif angkutan umum tersebut akan diajukan ke Bupati Karanganyar Juliyatmono untuk dituangkan dalam surat keputusan. Selanjutnya, SK akan ditempelkan di setiap armada angkot maupun angkudes.

Supardi, 37, salah satu pengemudi angkot mengaku cukup berat dengan penurunan tarif angkutan umum. Kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu diikuti dengan kenaikan harga suku cadang kendaraan. Hal itu justru menyebabkan pendapatan menurun. ”Apa boleh buat kalau tarif baru sudah ditetapkan. Sebenarnya dengan tarif yang sebelumnya sudah cukup berat,” tandasnya. (adi/bun/JPG/ton)