BERSITEGANG : Yohanes Sugiwiyarno saat beradu mulut dengan anggota Polres Semarang yang mengawal pengukuran tanah di Kelurahan Candirejo, Ungaran Barat. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSITEGANG : Yohanes Sugiwiyarno saat beradu mulut dengan anggota Polres Semarang yang mengawal pengukuran tanah di Kelurahan Candirejo, Ungaran Barat. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSITEGANG : Yohanes Sugiwiyarno saat beradu mulut dengan anggota Polres Semarang yang mengawal pengukuran tanah di Kelurahan Candirejo, Ungaran Barat. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSITEGANG : Yohanes Sugiwiyarno saat beradu mulut dengan anggota Polres Semarang yang mengawal pengukuran tanah di Kelurahan Candirejo, Ungaran Barat. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Pengukuran tanah SHM 17 di Kelurahan Candirejo RT 5 RW 2, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, siang kemarin yang dilakukan staf Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang nyaris berakhir dengan keributan. Sebab, salah seorang pemegang kuasa atas kepemilikan tanah SHM 1089, Yohanes Sugiwiyarno, 51, tidak terima dengan pengukuran SHM 17 di tanah yang dikuasainya. Padahal dalam kasus perdata sengketa tanah Pengadilan Negeri (PN) Ungaran majelis hakim memutuskan SHM 17 dan SHM 1089 tidak sama.

Namun pengukuran SHM 17 dilakukan di tanah SHM 1089. Sehingga Yohanes meminta sekelompok orang yang diduga preman dan puluhan anggota Polres Semarang beserta staf Kantor Pertanahan Kabupaten Semarang untuk keluar dari lokasi tersebut. Perdebatan antara Yohanes dengan polisi sempat terjadi. Kendati demikian, staf Kantor Pertanahan tetap melakukan pengukuran dengan dikawal polisi.