Unika-web

Oleh:
Widuri Kurniasari*

KEBIJAKAN kantong plastik berbayar, sudah dicanangkan pada Hari Sampah Nasional pada tanggal 21 Februari 2016. Selama tiga bulan, pasar swalayan di 23 kota di Indonesia menjadi tempat uji coba kebijakan ini. Alasan yang melatarbelakangi program ini adalah meningkatnya jumlah sampah plastik setiap hari, apalagi bahan plastik sangat sullit diuraia.

Alasan ini cukup kuat karena dari data di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH-K) menyebutkan Indonesia adalah penghasil sampah plastik yang dibuang ke laut terbesar kedua dunia. Indonesia menghasilkan 187,2 juta ton setelah Tiongkok yang mencapai 262,9 juta ton. Untuk itu, bila laju penggunaan plastik tidak dikurangi, ini akan mengancam kelestarian lingkungan.

Kebijakan kantong plastik berbayar ini mengacu pada Surat Edaran (SE) Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun (Ditjen PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH-K) Nomor: S.1230/PSLB3-PS/2016 tentang Harga dan Mekanisme Penerapan Kantong Plastik Berbayar. Kebijakan kantong plastik berbayar ini, sebenarnya sudah lama disosialisasikan. Namun masih menuai pro dan kontra. Di beberapa daerah sudah mulai di berlakukan, namun ada juga yang menolak.