Dinkes Tindak Tegas RS Tidak Sesuai Prosedur

Angka Kematian Ibu Melahirkan Tinggi

223

”Banyaknya kematian ibu saat melahirkan, juga karena banyaknya ibu hamil. Padahal sebenarnya mereka tidak ingin punya anak namun tidak mau KB.”
Widoyono, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang

SEMARANG – Masih tingginya angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan di Kota Semarang menuntut Pemkot Semarang terus berupaya keras untuk mengatasinya. Setelah menerjunkan satu petugas kesehatan untuk masing-masing kelurahan, Pemkot Semarang mengklaim akan menindak tegas sejumlah rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang tidak memberikan pelayanan sesuai prosedur.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono, menuturkan, pihaknya akan segera melakukan Audit Maternal dan Perinatal (AMP). Jika diketahui ada sejumlah rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang tidak memberikan pelayanan sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan, maka pihaknya tidak segan-segan untuk menindak tegas.

”Mungkin karena ruang operasinya kurang atau karena obatnya kurang sehingga mengakibatkan meninggal dunia, akan kami tegur keras. Bila perlu akan kami panggil pengelola rumah sakitnya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Widoyono menegaskan, penurunan AKI merupakan satu dari tiga program prioritas utama yang dilakukan Dinas Kesehatan setelah pencegahan demam berdarah dan HIV/AIDS. Menurutnya, salah satu faktor tingginya AKI adalah karena saat ini masyarakat sudah mulai terbuka. ”Berbeda jika dibandingkan dulu yang kebanyakan justru disembunyikan. Sehingga saat ini laporan terus meningkat,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, tingginya risiko kematian ibu saat melahirkan juga disebabkan karakteristik seperti hamil terlalu tua, terlalu muda, terlalu rapat jaraknya, dan terlalu banyak anak. Melahirkan risiko tinggi juga dapat disebabkan non-karakteristik seperti adanya penyakit penyertaan meliputi darah tinggi dan anemia. ”Banyaknya kematian ibu saat melahirkan juga karena banyaknya ibu hamil. Padahal sebenarnya mereka tidak ingin punya anak namun tidak mau KB,” ujarnya.