Pengacara kelahiran Semarang, 25 Oktober 1974 ini mengaku semula memiliki harapan sangat tinggi untuk menjadi tentara. Bahkan ayahnya selalu mendukung dan sudah mendaftarkan dirinya. Namun dalam tes Penilaian Panitia Penentu Akhir (Pantukhir), ia sengaja tidak datang karena ibundanya meninggalkan pesan terakhir tersebut.

”Waktu itu kekhawatiran ibu, kalau punya istri ditinggal tugas seperti ayah ke Timor-Timur. Padahal secara hati, saya benar-benar ingin menjadi tentara, Bahkan sudah mendaftar bareng bapak, tapi semua saya ikhlaskan,” kata anak dari pasangan Alm Serma Cipto Sutaryono dan Almh Siti Rohimi ini saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Senin (28/3) kemarin.

Meski dilarang, bukan berarti tak bisa menyalurkan kecintaannya terhadap beragam hal yang berbau ketentaraan. Justru sejak itu, Nugroho hobi mengoleksi dan berburu pernak-pernik militer yang digelutinya sejak tahun 1991, saat masih duduk di bangku SMA Diponegoro Semarang. Tak heran koleksinya yang dikumpulkan sejak SMA tersebut, sudah mencapai 460 jenis. Di antaranya celana 8, baju 4, kaos 40, jaket 3, sepatu 2, kalung 1, gelang taktikal 1, path perekat 100 jenis, topi 15, majalah militer 70, pisau komando 3, tas Armi 7, ikat pinggang 4, tempat air 2, dan koleksi film perang 200 keping.

”Hobi mengoleksi barang-barang militer ini memang sejak SMA, sejak gagal menjadi tentara. Sekarang total koleksi saya cuma 460 jenis. Paling mahal ya baju dan celana impor sampai Rp 500 ribu,” ujar Wakil Ketua Bidang Bantuan Hukum DPC Peradi Kota Semarang ini.

Nugroho mengaku barang-barang koleksinya sebagian besar tidak mudah didapatkan. Sebagian besar berasal dari hasil perburuan di berbagai tempat, di antaranya dari Sukoharjo, Jogjakarta dan Jakarta. Selebihnya ia peroleh dari Kota Semarang saja. Di daerah Sritek Sukoharjo dirinya berhasil mendapatkan baju dan celana jenis Marfadz gurun, Sas dan Swedia gurun serta seragam Armi. Sementara di Jogjakarta daerah Molay, ia memperoleh path perekat militer dan topi jenis Armi.