Sementara itu, pedagang lainnya, Muhdasoh mengaku hingga saat ini belum menempati shelter yang disediakan Pemkot Semarang lantaran masih menyelesaikan pembangunan kiosnya. Ia sengaja mengerjakan sendiri pembangunan kios dengan pertimbangan biaya yang lebih murah. ”Kira-kira habisnya Rp 700 ribu. Kalau pedagang lain dengan menyewa tukang dan menggunakan rolling door habisnya bisa sampai jutaan,” ujar pedagang peralatan pertukangan itu.

Disinggung kapan segera menempati shelter tersebut, ia mengaku belum dapat memastikannya. Ia berdalih beberapa pedagang lain dan tukang kayu masih terlihat banyak yang baru membuat kerangka kios berbahan kayu dan sebagian di antaranya menggunakan rolling door. Sehingga membutuhkan waktu yang lama. ”Memang harusnya dua minggu setelah diresmikan kita harus pindah. Tapi saya ikut teman-teman saja yang juga banyak belum pindah,” tukasnya.

Sebelumnya, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi saat meresmikan Shelter Suryokusumo memberikan waktu dua minggu bagi PKL untuk menyiapkan kiosnya masing-masing. Rencananya, ia akan mengecek kembali kepindahan PKL ke shelter tersebut pada 31 Maret mendatang.

”Yang penting ditempati. Terkait beberapa fasilitas yang kurang akan segera dilengkapi kemudian. Catat saja kekurangannya dan laporkan kepada Dinas Pasar,” ujar pria yang akrab disapa Hendi itu.

Seperti diketahui, jumlah PKL Tlogosari yang terdaftar di Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) Kota Semarang sebanyak 500 pedagang. Sementara yang akan dipindah ke Shelter Suryokusumo pada tahap pertama sebanyak 225 pedagang. (fai/ida/ce1)