Oleh: Djawahir Muhammad

TROTOAR (trottoir, Ing) adalah jalur yang di kanan-kiri jalan raya disediakan bagi pejalan kaki. Ukurannya biasanya mengikuti luas jalan utama. Di Jalan Pemuda, Jalan Gajahmada atau Jalan Pahlawan yang lebarnya sekitar 24 meter, panjang trotoarnya adalah sepanjang jalan rayanya, dengan lebar bervariasi. Di Jalan Pemuda dan Jalan Pahlawan lebarnya antara empat sampai delapan meter. Tetapi trotoar di Jalan Gajahmada hanya selebar dua atau empat meter. Begitu pula di Jalan Prof Hamka yang lebar jalannya 24 meter, di beberapa tempat lebar trotoarnya hanya sekitar dua meteran saja. Menurut fungsinya, maka trotoar adalah bagian dari jalan, bukan yang lain.

Tetapi dari relitas yang ada dewasa ini telah terjadi perubahan fungsi pada sebagian badan jalan yang disebut trotoar itu. Sebagian besar dari trotoar telah hilang, berubah menjadi tempat menanam pohon peneduh, digunakan sebagai lapak/kios pedagang, malahan ada yang beralih fungsi menjadi hunian yang permanen. Dari pengamatan sekilas, trotoar yang masih berfungsi dengan baik adalah trotoar sepanjang Jalan Pemuda dan Jalan Pahlawan, di mana banyak orang – misalnya pegawai dan pelajar –masih menggunakannya sebagai tempat berjalan kaki. Sedangkan trotoar yang telah berubah menjadi lapak yang permanen adalah trotoar di Jalan Dr Soetomo yang telah menjadi kios penjual bunga dan tanaman hias, trotoar di sekitar Simpang Lima (terutama sebelah Matahari Plaza) berubah menjadi kios PKL, begitu pula trotoar di Jalan MT Haryono, Jalan Veteran, dan beberapa jalan yang lain.

Sedangkan trotoar yang benar-benar telah lenyap antara lain adalah trotoar di Jalan Sriwijaya, Jalan Dr Cipto, dll. Selain untuk eksisting tanaman peneduh, trotoar di jalan-jalan itu telah tergerus oleh perbaikan gorong-gorong atau didirikan lapak permanen/ semipermanen oleh masyarakat.

Dari sudut perkembangan kota, di satu sisi dan kebutuhan lapangan kerja pada sisi yang lain, kehilangan dan perubahan fungsi trotoar sesungguhnya merupakan kondisi yang paradok atau berlawanan. Pada satu sisi, fungsi trotoar sebagai fasilitas untuk pejalan kaki mestinya harus dilindungi, demikian pula dari sisi penataan kota. Jakarta harus menata kawasan di sekitar Pasar Senen, meskipun harus berhadapan dengan perlawanan dari PKL dan para pemukim di sana. Pada satu sisi, perlawanan para pemilik kios itu membutuhkan toleransi, namun demi ketertiban kota dan kenyamanan lingkungan mereka harus mau diatur. Penggusuran merupakan salah satu solusi yang terpaksa dilakukan. Pertanyaannya, apakah solusi serupa perlu dilakukan di kota kita?