Sindikat Pengedar Uang Palsu Dibongkar

Dua Ditangkap, Satu Dalam Pencarian

687

PURWOKERTO-Sindikat pengedar uang palsu (Upal) berhasil dibongkar Satreskrim Polres Banyumas, Selasa (22/3) lalu. Dua tersangka Saeful Muntadi, 46, warga Desa Pasir Wetan, Kecamatan Purwokerto Barat dan Habib Darmawan, 42, warga Dukuh Gandekan, Kelurahan Bantul, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Jogjakarta berhasil ditangkap. Kedua ditangkap di dua tempat berbeda di Sokaraja.

Kapolres Banyumas AKBP Gidion Arif Setyawan, kemarin mengatakan, penangkapan terhadap kedua tersangka berawal dari informasi masyarakat yang menyebutkan adanya transaksi uang palsu di Desa Karangnanas, Kecamatan Sokaraja. Mendapatkan informasi tersebut, pihaknya segera melakukan penyelidikan hingga akhirnya dapat menangkap kedua pengedar uang palsu tersebut. Saeful ditangkap di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Karangnanas sekitar pukul 18.00.

“Dari hasil interogasi, Saeful mengaku telah mengedarkan uang palsu kepada Edi yang saat ini masih dalam pencarian dengan kesepakatan satu lembar uang rupiah asli ditukar dengan tiga lembar uang palsu (1:3). Dalam penangkapan tersebut, anggota kami menemukan barang bukti berupa 303 lembar uang palsu pecahan Rp 100 ribu yang tersimpan di saku jaket pelaku,” katanya.

Selain itu, petugas juga menemukan tiga lembar kertas pengikat uang bertuliskan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan 100 lembar uang pecahan Rp 100 ribu atau sebesar Rp 10 juta. Saat ditanya petugas, Saeful mengatakan jika ratusan lembar uang palsu tersebut milik Habib.

“Berdasarkan informasi tersebut, anggota kami segera menangkap Habib yang saat itu berada di Desa Lemberang, Kecamatan Sokaraja. Dalam penangkapan tersebut, anggota kami menemukan dua lembar uang kertas pecahan Rp 100 ribu,” katanya.

Menurut dia, seluruh barang bukti berupa uang palsu termasuk satu unit sepeda motor, satu unit telepon seluler, jaket, dan tas yang dibawa kedua pelaku telah disita.

Kepada wartawan, Habib mengatakan upal tersebut didapatnya dari Bekasi. “Saya bawa ke sini karena ada yang pesan,” singkat tersangka.

Akibat perbuatannya tersangka dijerat dengan Pasal 36 ayat 2 dan 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1e Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) atau Pasal 245 KUHP dengan ancaman pidana 10 tahun penjara. (ali/acd)