CUACA EKSTRIM : Ratusan nelayan dengan perahu kecil memarkirkan perahunya di dermaga TPI Jambean, Wonokerto, Pekalongan, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CUACA EKSTRIM : Ratusan nelayan dengan perahu kecil memarkirkan perahunya di dermaga TPI Jambean, Wonokerto, Pekalongan, kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Banyaknya nelayan yang hilang saat melaut menimbulkan keprihatinan tersendiri. Para nelayan diminta lebih memperhatikan faktor keselamatan sehingga siap menghadapi kemungkinan terburuk saat bekerja.

Hal tersebut mengemuka pada sosialisasi yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Jawa Tengah yang diikuti 20 perwakilan nelayan, Selasa (22/3). Sosialisasi yang melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Basarnas Jateng ini memberikan pengetahuan untuk meningkatkan keselamatan ketika berlayar di laut lepas.

Kepala Bidang Tangkap Dinlutkan Jawa Tengah Fendiawan Tiskiantoro menuturkan, sosialisasi keselamatan bagi nelayan ini tergolong penting untuk untuk meminimalisir jumlah nelayan yang hilang di laut saat berlayar. ”Banyak nelayan yang kurang memperhatikan keselamatan. Peranti yang berada di kapal kebanyakan untuk menangkap ikan, hanya sedikit yang berbau keselamatan,” tuturnya
Ke depan, lanjutnya, sosialisasi ini, akan melibatkan perwakilan nelayan se-Jawa Tengah yang berada di pantai utara maupun pantai selatan. Dengan begitu, nelayan bisa lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk saat berlayar.

Seperti diketahui, tidak sedikit nelayan yang kurang memperhatikan keselamatan ketika berburu ikan. Peranti utama untuk berlayar di laut, seperti life jacket atau jaket keselamatan jarang ditemukan di kapal nelayan.

”Banyak nelayan yang tidak memperhatikan hal ini. Jadi ketika diempas ombak, mereka tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan berenang karena berada di tengah laut,” tutur Kasi Potensi Basarnas Jawa Tengah, Joko Sungkowo.