Identifikasi Mayat lewat Tulang, Bisa Dideteksi hingga 33 Generasi

Sumy Hastry Purwanti, Satu-satunya Polwan Bergelar Doktor Forensik di Asia

396
AHLI FORENSIK: AKBP Dr Sumy Hastry Purwanti dr DFM SpF (kedua dari kanan) berfoto bersama usai meraih gelar doktor forensik di kampus FK Unair Surabaya. (ISTIMEWA)
AHLI FORENSIK: AKBP Dr Sumy Hastry Purwanti dr DFM SpF (kedua dari kanan) berfoto bersama usai meraih gelar doktor forensik di kampus FK Unair Surabaya. (ISTIMEWA)
AHLI FORENSIK: AKBP Dr Sumy Hastry Purwanti dr DFM SpF (kedua dari kanan) berfoto bersama usai meraih gelar doktor forensik di kampus FK Unair Surabaya. (ISTIMEWA)
AHLI FORENSIK: AKBP Dr Sumy Hastry Purwanti dr DFM SpF (kedua dari kanan) berfoto bersama usai meraih gelar doktor forensik di kampus FK Unair Surabaya. (ISTIMEWA)

AKBP Dr Sumy Hastry Purwanti dr DFM SpF menjadi satu-satunya anggota Polwan yang meraih gelar doktor forensik di Polda Jateng, bahkan di Asia. Bidang ilmu yang ditekuninya, yakni mengidentifikasi mayat yang sudah rusak melalui tulang. Seperti apa?

M. HARIYANTO

BELUM lama lalu, gelar Doktor Forensik diraih Sumy Hastry Purwanti dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Wanita kelahiran Jakarta, 23 Agustus 1970 ini menyelesaikan disertasi berjudul ”Variasi Genetika Pada Populasi Batak, Jawa, Dayak, Toraja dan Trunyan dengan Pemeriksaan D-Loop Mitokondria DNA untuk Kepentingan Identifikasi Forensik.” ”Total saya selesaikan kuliah doktor selama tiga tahun 10 bulan. Khusus penelitian disertasi saya selesaikan selama setahun,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Lewat disertasinya itu, ia ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa tulang manusia bisa diselidiki untuk mengungkap identitasnya. Untuk pembuktian disertasinya tersebut, setidaknya puluhan sampel tulang orang yang sudah meninggal dia teliti. ”Rata-rata sampel yang saya ambil sudah meninggal selama 50 tahun. Total sampel ada 70 tulang, namun yang berhasil diperiksa 50,” bebernya.

Dia mengatakan, sampel tulang yang diteliti harus melewati proses panjang dan tidak mudah mencarinya. Pasalnya, sampel yang akan diteliti harus betul-betul keturunan asli Jawa, Dayak, Batak, Toraja dan Trunyan (Bali) tanpa ada campuran DNA dari populasi lain.

”Saya harus berhadapan dengan adat istiadat itu. Ada keluarga sampel yang akan diteliti awalnya menolak. Namun setelah dijelaskan bahwa ini untuk kepentingan penyelidikan akhirnya mereka mau,” ucap alumnus Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang 2004 ini.

Menurut cerita Hastry, ketika akan meneliti tulang atau kerangka manusia keturunan Batak, ia harus membongkar terlebih dulu jenazah yang sudah dikuburkan. Selain minta izin melakukan pembongkaran, juga ada prosesi upacara dan tari-tarian agar masyarakat mengizinkan penelitian kerangka warga keturunan Batak.

”Kalau suku asli Dayak, harus mencari ke dalam hutan. Minta izin ketua adat, ritual dari malam hingga pagi hari di tengah hutan, upacara potong hewan babi. Karena saya muslim, jadi potong ayam, dan saya harus makan ayam itu. Kalau di Toraja, harus beli emas dan kertas khusus sebagai alat ritual supaya diizinkan pemuka adat dan keluarga kerangka yang akan diteliti,” jelasnya.

Hasil penelitian DNA Mitokondria dari tiga populasi Dayak, Jawa dan Batak ditemukan kesamaan. Menurutnya, ada hubungan kekerabatan antara populasi Batak, Dayak dan Jawa. Sedangkan Toraja dan Trunyan (Bali) tidak memiliki kesamaan dengan populasi lainnya.

”Ada beberapa persamaan dari DNA Mitokondria, dari pola pewarisan yang diturunkan oleh ibu. Ini bisa dideteksi sampai 33 generasi. Temuan ini bisa menjadi acuan identifikasi di lingkup forensik dan Polri ke depannya. Pencarian data antemortem bisa dipersempit setelah tahu sampel yang akan diteliti, jadinya lebih mudah mengidentifikasi,” bebernya.

Kasubbid Dokpol Bid Dokkes Polda Jateng ini menilai, jumlah dokter di Indonesia yang memiliki spesialisasi tersebut masih kurang dari 100 orang. Menurutnya, profesi tersebut dinilai sangat unik dan langka. Sebab, kebanyakan perempuan enggan berlama-lama dengan urusan mayat.

”Ada banyak tantangan yang harus dihadapi dokter forensik. Harus bekerja tanpa kenal waktu, kuat mental karena harus sering berhadapan dengan berbagai jenis mayat, baik yang sudah membusuk maupun potongan tubuh manusia yang tak lagi dikenali, biasaya korban kecelakaan, ledakan bom, dan bencana alam,” jelasnya.

Pihaknya mengaku sangat berterima kasih kepada semua pihak yang selalu mendukung dan membantu hingga terselesainya penelitian disertasi tersebut. Menurut wanita yang pernah dipercaya mengidentifikasi korban hilangnya pesawat AirAsia di Selat Karimata pada Minggu (28/12/2014) silam ini berjanji akan selalu siap sedia jika tenaganya dibutuhkan. ”Namanya tugas dan kewajiban, sesibuk apa pun akan tetap jadi prioritas. Bahkan kalau sedang banyak kasus, seminggu bisa lebih dari dua kali mengotopsi mayat,” pungkas polwan yang menjadi anggota tim Disaster Victim Identification (DIV) Polda Jateng itu. (*/aro/ce1)