TIDAK TERTATA: Puluhan reklame dan baliho ukuran besar terpasang di kawasan Simpang Lima Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TIDAK TERTATA: Puluhan reklame dan baliho ukuran besar terpasang di kawasan Simpang Lima Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TIDAK TERTATA: Puluhan reklame dan baliho ukuran besar terpasang di kawasan Simpang Lima Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TIDAK TERTATA: Puluhan reklame dan baliho ukuran besar terpasang di kawasan Simpang Lima Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

”Penataan balihonya jorok dan jelek. Sudah berkali-kali saya ngomong tapi enggak ada respons.”
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo

SEMARANG – Kawasan Simpang Lima Semarang kini menjadi hutan reklame. Ada lebih dari 50 papan reklame berukuran besar dan kecil di jantung Kota Semarang ini. Reklame dan baliho itu terpasang di depan mal dan hotel di kawasan tersebut. Di antaranya, di depan Gajah Mada Plaza, depan Mal dan Hotel Ciputra, depan Hotel Horison, depan eks Gedung Super Ekonomi, depan Plaza Simpang Lima, serta depan Living Plaza. Kondisi itu sempat dikritik habis-habisan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyatakan, akan segera melakukan penataan atas sejumlah reklame dan baliho yang berada di kawasan Simpang Lima Semarang. Hal itu sekaligus menjawab kritik Gubernur Ganjar Pranowo yang menilai penataan reklame di kawasan itu buruk.

”Pak Gub bicara seperti itu akan menjadi evaluasi buat kita. Sebenarnya kita sudah mulai membuat rancangan perda penataan reklame. Tahun 2014 kajian, 2015 masuk prolegda (program legislasi daerah), dan awal 2016 diajukan ke dewan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (21/3).